Kadang hidup butuh imajinasi negeri dongeng

Minggu, 14 Mei 2017

(Jatuh) Cinta

Ketika kita merasa melayang-layang bertemu dengan lawan jenis. Merasa nyaman diperhatikan lawan jenis. Dan ingin menjalin suatu hubungan. Atau mungkin itu yang sering kali anak muda katakan jatuh Cinta. Wajar saja ketika merasakan hal tersebut. Apalagi bagi remaja yang sudah akil baligh.
Share:

Sabtu, 15 April 2017

Kenikmatan Menjadi Mahasiswa Rantau

Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan menghirup udara segar dengan gratis.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesehatan.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan untuk mengisi perut, walau hanya dengan segelas air bening.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan menambah pengetahuan dengan menjadi pembelajar.

Belajar adalah sebuah perjalanan panjang tanpa henti. Itu kataku.

Perkenalkan namaku Fitri Maimunah. Kerap disapa Maemunah. Aku sekarang melanjutkan sedang menempuh S1 di salah satu LPTK di ibukota Jawa Tengah.

Datang jauh-jauh dari Jawa Timur untuk mencari asupan bagi dahaga yang haus akan ilmu pengetahuan. Sebenarnya tidak jauh, hanya berjarak 4 jam perjalanan untuk pulang. Begitu sebaliknya untuk kembali ke Kampus. Tapi jujur aku jarang pulang, paling cepat 2 Bulan sekali, dan paling lama 6 Bulan sekali.

Bukannya tidak rindu rumah atau bagaimana. Jujur aku pun rindu. Hanya saja aku ingin lebih menikmati perjalanan ku disini.

Selamat Berproses, Anak Muda!!!
Masa depan yang cerah sudah menantimu 😊
Share:

BADAI PERTAMA DI MERBABU

Share:

Selasa, 28 Maret 2017

Ayah Ingatkah Engkau

Lelaki paruh baya itu perlahan masuk ke kamar putrinya. Sudah hampir 2 tahun putri satu-satunya menikah dan tinggal bersama suaminya, jarang sekali dia pulang ke rumah. Namun, kamarnya ini tetap dijaga dengan rapi. Ia memutarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Rindu itu mulai masuk dalam ruang hatinya. Duduk di atas kasur yang telah using itu. Tak sengaja ia menemukan sebuah buku kecil di bawah kasur.


Assalamu’alaikum, Ayah..
Bagaimana keadaan Ayah? Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia.
Ayah, tahukah engkau kalau putri kecilmu ini sedang rindu yang teramat sangat? Ayah dulu aku berfikir jika jauh darimu apakah aku bisa? Bagaimana mungkin aku bisa jauh darimu padahal dari kecil kita selalu bersamamu? Semenjak ibu meninggal hanya Ayah yang mencintaiku dengan tulus. Sesibuk apapun Ayah, pasti selalu menyisihkan waktu denganku.
Waktu pertama kali aku masuk kuliah, Ayah yang mengntarkanku, persis seperti saat aku Sekolah Dasar dulu. Jauh dari Ayah saat kuliah dulu, sehari tanpa kabar dari Ayah rasanya lama sekali.

Ayah, saat Ayah dekat dengan wanita lain selain keluarga dan memperkenalkannya padaku, dalam fikiranku akan ada pengganti ibu dari hati Ayah. Akan ada penggantiku dari sisi Ayah. Ayah aku selalu tidak suka dengan semua wanita yang dekat dengan Ayah selain Ibu.

Suatu hari aku akan menikah. Tinggal bersama suamiku dan jauh dari Ayah.
Jujur saja, aku belum sanggup jauh dari Ayah. Bagiku Ayah tetap Raja di hati walau ada sejuta pangeran yang datang menghampiri ingin masuk ke dalam hati.
Suatu hari ketika ada orang datang ke Ayah dan ingin meminangku. Aku tahu Ayah akan mempersilahkan, asal lelaki itu bisa menjadi imam dan menggantikan posisi Ayah. Ayah, aku manja. Selalu. Setiap saat ingin dekat dengan Ayah. Aku tidak tahu bagaimana caraku dapat beradaptasi jauh dari Ayah.
Ayah, aku sayang Ayah. Sayang yang teramat. Terima kasih.

Salam cinta dari Putri Kecilmu,

Mae


Tak terasa air bening mengalir dari mata lelaki itu. Haru bercampur rindu, pada putri kesayangannya. Putri satu-satunya. Titipan dari Yang Maha Kuasa. Titipan dari sang istri, setelah ia meninggal. Putrinya sekarang sudah dewasa. Sudah dipersunting dan hidup bersama pangeran impiannya.
Share:

Jumat, 06 Januari 2017

Jusuf Kalla : Pemimpin dengan Seribu Kontroversi

Jusuf Kalla, hampir semua orang mengenal nama itu. Ia adalah wakil presiden pertama dengan dua kali masa jabatan yang terpilih melalui pemilihan umum. Sosok yang sering dipanggil JK ini disebut sebagai “the real president” karena sering mengambil keputusan yang memiliki pengaruh besar pada negara. Solusi yang ditawarkan untuk menjawab persoalan negeri ini bukan hanya inovatif tapi juga kontroversional.
Jusuf Kalla adalah anak ke-2 dari 17 bersaudara. Lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama lantas membuatnya sangat religius. Ayahnya bernama Hadji Kalla sedangkan ibunya bernama Athirah. JK kerap disapa dengan panggilan Ucu. Sejak remaja JK harus menerima kenyataan hidup dalam lingkungan yang berpoligami. JK didewasakan oleh keadaan. Sejak ibunya memilih berpisah dari ayahnya, ia menjadi pemimpin keluarga menggantikan ayahnya. Menjaga ibunya untuk tetap bangkit dan memastikan adik-adiknya bisa makan esok hari. Baginya kebahagiaan keluarganya adalah yang terpenting dan senyuman ibunya adalah yang utama.
Jusuf Kalla adalah salah seorang yang tak sudi bila bangsa asing terlalu ikut campur dalam urusan pembangunan Indonesia tercinta ini. Dalam pandangan JK, birokrat di Indonesia masih menganut sistem rimba. Lebih taat aturan daripada menubah aturan demi kesejahteraan rakyat. Peraturan yang dianggap bisa menghambat pasti diganti JK. Terbukti pada masa kepemimpinannya sebagai Wapres 2004-2009, beliau berhasil mengurangi ketergantungan dengan pembiayaan modal asing.
Bila dulu kita lebih sering mengimpor beras maka pada masa kedudukan JK hal itu dihilangkan. JK mencukupi para petani dengan ketersediaan kebutuhan bibit melalui Departemen Pertanian. Swasembada akhirnya kembali berhasil dilakukan setelah sebelumnya berhenti selama sepuluh tahun.
Bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Segala macam hal ada di sini. Akan tetapi, yang masih menjadi interopeksi mengapa bangsa yang sedemikian kaya ini tidak maju-maju dan jauh tertinggal dalam hal kesejahteraan? Bangsa Jepang terang benderang karena mendapat dukungan batu bara hasil impor dari kita, sedangkan bangsa kita untuk pemenuhan listrik saja belum sepenuhnya merata.
Ketika konversi dari minyak tanah menjadi gas mencuat ke publik banyak orang kontra dengan keputusan itu. Namun JK tetap optimis kebijakan tersebut akan berhasil. Hasilnya seperti yang kita rasakan. Hampir setiap rumah telah menggunakan gas sebagai bahan bakar untuk memasak. Efisiensi puluhan triliun hasil konversi, dialokasikan ke sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, dan lain-lain. Kalla (2013a) mengatakan resiko dari semua keputusan itu adalah ketika salah ia mau untuk yang bertanggungjawab.
JK percaya bahwa semua bisa diselesaikan. Belajar dari pengalaman tahun 2005 ketika kebijakan kenaikan harga BBM dilakukan. Indonesia berhasil menaikkan harga BBM hingga 125 persen tanpa gejolak. Kenaikkan tersebut adalah kenaikkan tertinggi yang pernah terjadi di dunia dan terbesar dalam sejarah Indonesia. Kenaikkan yang bisa dikatakan penuh resiko, tetapi tidak ada rakyat yang marah. Kenapa? Strategi.
Pertama, memberi pemahaman sederhana yang dapat diterima masyarakat. Jika BBM tidak naik, banyak jalan yang rusak. Sekolah akan sulit. Gaji guru banyak yang tidak bisa dibayar. Bagi warga kurang mampu akan diberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk mengurani beban. Sebenarnya BBM yang naik itu yang dikonsumsi orang mampu, yang naik mobil.
Kedua, timing yang tepat. Keputusan itu dilakukan sehari sebelum puasa. Pada bulan puasa, terjadi banyak penghematan. Orang akan memasak dua kali sehari dan jarang jalan-jalan. Dan yang terpenting pada bulan puasa tidak ada demonstrasi. Karena mereka tidak boleh marah dengan alasan hawa nafsu.
JK tidak segan menyebut Bank Indonesia (BI) sebagai perampok karena kebijakannya. Pada saat menjabat sebagai Menkokesra, pernah JK merobek Memorandum of Understanding (MoU) karena tidak sepaham. Kebijakan itu dianggap tidak adil bagi rakyat. Pengusaha besar diberikan bunga 45 persen sedangkan pengusaha 15 persen. Hal ini seperti pembodohan, karena belum seluruh lapisan masyarakat paham tentang hal tersebut. JK pernah mengatakan untuk menjual setengah dari kantor BI. Hal ini untuk memperbaiki keungan negara. Di dunia ini tidak ada kantor bank sentral yang semewah BI. Ini sangat tidak pantas untuk sebuah negara yang tingkat pendapatannya masih rendah.
Setelah selesai masa jabatannya menjadi Wapres periode tahun 2004-2009, JK tak lantas berhenti. Ia terpilih menjadi pemimpin pusat Palang Merah Indonesia (PMI) secara aklamasi. Ketika ada bencana di berbagai daerah di Indonesaia, ia turun langsung untuk menangani semampu yang ia bisa lakukan. Selain mengurusi pengungsi, JK aktif sebagai juru damai. Ia juga sering diminta berpendapat mengenai isu-isu publik.
Pemimpin yang baik adalah ketika mereka mau bergerak bukan hanya berteori dan dapat membaur dengan segala lapisan masyarakat. Kepemimpinannya dikatakan berhasil adalah ketika tindakannya dapat mensejahterakan masyarakat. Jusuf Kalla adalah sosok pemimpin yang dibutuhkan Indonesia. Pro dan kontra tak lepas dari kebijakan yang ia keluarkan. Tapi semangat keyakinannya tak gentar. Ia tak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Kebijakannya sudah melalui pertimbangan yang matang dan siap menanggung dampak buruk yang timbul jika terjadi. Ia pemimpin yang tegas bukan keras. Nilai khas dalam gaya memimpinnya bisa dikatakan “nekat”. Komitmennya untuk mensejahterakan rakyat bukan hanya ucapan melainkan juga dengan tindakan nyata. Untuk mengubah bangsa ini ke arah yang lebih yang dibutuhkan tak hanya kemampuan kerja keras, tetapi juga hati nurani.
Sinergi antara otot, otak, dan hati dari seorang pemimpin dibutuhkan untuk membuat Indonesia maju. Persoalan negeri ini memang tidak pernah sampai pada ujung. Datang silih berganti bahkan kadang tumpang tindih. Pendekatan yang dilakukan JK adalah melalui dialog, dengan masyarakat menanyakan apa yg mereka harapkan, dengan petinggi memberi pernyataan tentang yang dapat mereka usahakan untuk negeri ini. Negara kita adalah negara demokrasi, tapi demokrasi ini hanya sebuah cara. Dalam menyelesaikan masalah diperlukan masyarakat, dengan tujuan akhirnya tercapai mufakat. Menurut Kalla (2013a), pemimpin itu tidak hanya yang pandai berbicara saja, tetapi juga tahu bagaimana mengubah cara pikir, meyakinkan orang, mempengaruhi orang, dan menguasai kondisi lapangan. Selalu ada terobosan baru dan rakyat pun dipuaskan. Bangsa besar dengan segala permasalahan di dalamnya ini memang membutuhkan sosok pemimpin yang revolusioner seperti Jusuf Kalla.




Daftar Pustaka

Kalla, Jusuf. 2013a. Inspirasi JK. Jakarta: Noura Books Publishing.

----- 2013b. Jalan Keluar–Logis, Spontan, Jenaka. Jakarta: Kompas.
Share:

Kamis, 29 Desember 2016

Coretan Singkat Sang Aktivis Karbitan

Hidup Mahasiswa!

Saya mengawali tulisan ini dengan kata-kata yang sering diteriakkan aktivis.
Hari ini akhir bulan Desember 2016. Status saya masih sebagai "anak BEM" yang katanya aktivis. Ya, saya bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa salah satu fakultas di universitas negeri di kota Semarang. Beberapa hari lagi saya dan kawan-kawan yang lain akan demisioner dan meninggalkan jabatan. Menuntaskan amanah yang selama ini kami emban.
Bangga rasanya. Menjadi bagian dari organisasi terbesar di tingkat fakultas ini.

Namun rasa bangga saya hanya di awal cerita. Mengapa saya berani mengatakan demikian? Ah, mungkin bagi kamu yang katanya "aktivis mahasiswa" pasti merasa bingung kenapa rasa kebanggaanku menurun. Akan aku ceritakan.

Saya masuk sebagai staff dalam Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) di BEM. Saya menyukai dunia IT dan menyukai jurnalistik sehingga saya pikir cocok masuk di departemen ini. Tetapi sebaliknya, justru saya merasa tidak nyaman di sini. Anggota departemen yang lain menurut saya hebat-hebat. Bahkan ada yang sudah mengikuti lomba design tingkat nasional. Sedangkan saya? Saya mah apa atuh. Sebagai seseorang yang sedang merintis keterampilan multimedia dari awal saya merasa tertinggal jauh dengan mereka. Saya belajar otodidak jadi jangan salahkan kalau tingkat kemampuan dan kecepatan saya menguasai bidang ini kurang. Walaupun memang saya orang yang lelet. Mungkin rasa gengsi saya terlalu tinggi hingga tak mau meminta tolong pada mereka. Seolah ada jarak yang mungkin saya sendiri yang buat.

Kalo dikata aku mundur dari BEM, tidak juga, aku masih sering nongol di sana. Tapi kalo aku aktif di BEM sebenarnya tidak juga.
Motivasi awal masuk BEM? Emm.. apa ya? Oh, iya, sederhana sekali karena melihat pidato Gubernur BEM ku ketika saya masih menjadi mahasiswa baru (maba). Public speakingnya mempesona, persuasif sekali, kena banget buat maba, dan saya ingin sepertinya.

Ketika kamu masuk organisasi LK di kampus kamu akan sedikit-sedikit belajar tentang politik. Dan lihatlah saya sekarang. Telah terkontaminasi itu semua. Tapi saya masih bisa dikata buta politik. Saya hanya senang berdiskusi tentang itu semua tapi belum mendalam pemahaman tentangnya. Kata teman saya, saat ini saya sedang berada di golongan tengah. Terombang-ambing dalam pertanyaan saya tentang itu.

Sebanyak apapun saya menulis di sini, saya tak bisa menampik bahwa saya kecewa. Tapi saya tidak pernah menyesal masuk ke dalam sana. Karena saya banyak belajar di sana. Mendapat pemahan baru bahwa politik kampus itu kejam ketika kamu masih naif dan memberanikan diri masuk ke dalamnya.

Share:

Jumat, 16 September 2016

MASA DEPAN BANGSAKU DIAWALI DARI KAMPUS

“Kenapa sih mahasiswa harus turun ke jalan (demo)? Memangnya bisa mengubah negeri ini jadi lebih baik?”
Mungkin ini yang ada dalam benak sebagian besar mahasiswa. Acuh terhadap bangsanya sendiri.
Lembaga pendidikan tinggi (kampus), dikatakan sebagai miniature sebuah negara yang mengajarkan kepada warganya untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Kampus juga sebagai rumah intelektual pembentukan karakter. Mahasiswa merupakan bagian dari sebuah kampus yang menjadi sorotan utama. Melalui universitas inilah mahasiswa akan ditranfer pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), dan perilaku (behavior) sehingga kelak ia dapat berkompetisi pada persaingan global.

Konspirasi Mahasiswa dan Romantisme Pergerakannya
Mahasiswa merupakan garda terdepan setiap perubahan penting dan mendasar di negeri ini. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa, baik sebagai pelopor penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Banyak orang kritis yang lahir dari aktivis kampus.
Mulaidari 1908, lahirnya Boedi Oetomo telah membangitkan semangat perjuangan untuk melawan kolonialisme dengan cara yang cerdas. Sejak diikrarkannnya Sumpah Pemuda 1928 juga tidak terlepas dari peran penting kaum muda, hingga berlanjut pada Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Pada periode 1966 gerakan mahasiswa masih bersifat lokal, berbasis kampus atau kedaerahan. Gerakan mahasiswa yang lebih sistematis terjadi setelah terbentuknya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), dilanjutkan dengan TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat). Jika angkatan ’45 lahir dari romantisnya perang untuk memperoleh kemerdekaan, sedangkan pada angkatan ’66 lahir dari krisis sosial, ekonomi, danpolitik, konsep perjunagan pada waktu penjajahan tidak dipergunakan lagi tetapi lebih mengarah kepada pengisian kemerdekaan.
Pada 1997, dengan gerakan reformasinya, mahasiswa mampu mendobrak ketidakadilan sistem politik dan ekonomi.Periode pasca 1998, gerakan mahasiswa terjebak pada romantisme heroism peristiwa Mei 1998. Gerakan mahasiswa cenderung kembali bersifat gerakan lokal meskipun telah dibentuk BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia). Berbicara tentang mahasiswa dan gerakan yang dilakukan memang tidak pernah ada ujungnya.
Bangsa ini lahir dari keberagaman dengan satu semangat tujuan. Semangat nasionalisme yang menyatukan bangsa Indonesia sehingga tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di negeri ini. Nasionalisme adalah suatu sifat, faham, kekuatan, dankesadaranpikiransejati, yang merupakan suatu kecintaan dan loyalitas terhadap mayarakat, bangsa dan negara sendiri. Naionalisme dapat tumbuh, berkembang, dan hidup sepanjang perjalanan suatu bangsa. Semangat ini pula yang menginspirasi mahasiswa untuk bergerak dan berjuang.
Dari urun angan, urun tangan, hingga urun nyawa pun mereka lakukan. Karena tugas mahasiswa bukan cuma belajar di kelas, presentasi, mengerjakan tugas, datang ke seminar, dan kegiatan ke kampusan yang lain, lebih dari itu mahasiswa menjadi penyangga peradaban yang akan dilalui bangsa ini kedepannya. Mahasiswa adalah sebagai the moral force, social control, dan agent of change sehingga ia dituntut untuk berpikir rasional dan kritis mencari solusi dari sebuah masalah.

Tantangan Mahasiswa di Masa Kini
Mahasiswa dengan statusnya yang memiliki ‘Maha’ atas kesiswaannya, jelas menjadi generasi terdepan di kalangan kaum muda dengan proses pendidikan panjang yang telah dilewatinya. Indonesia memiliki persediaan sumber daya manusia ke depan (iron stock) dengan karakter baik (good character) dibarengi kemampuan dan high competency yang harus dikuasai, oleh keberadaan mahasiswa.
Sebagai kalangan kelas menengah, mahasiswa merupakan elemen penting pengontrol kebijakan pemerintah baik itu dalam tataran nasional maupun lokal. Selain itu, mahasiswa merupakan pengabdi masyarakat yang diamanahkan sebagai pembina bangsa melalui aplikasi ilmu yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya rakyat kecil. Pola perjuangan mahasiswa dapat dibagi menjadi dua, yaitu structural dan kultural. Pola struktural dalam perjuangan mahasiswa merupakan sebuah domain yang berkarakter  politis dan memiliki prioritas masa kini. Hal ini meliputi pengkritisan kebijakan di kalangan pemerintah, penyaluran aspirasi dari rakyat kecil kepada wakil rakyat, serta pengawal dari kepentingan rakyat terhadap struktur pemerintahan. Sedangkan secara kultural, polanya berkarakter pembinaan serta mimiliki visi masa depan sebagai investasi pembangunan.
Tatangan lain yang tidak ringan bagi Bagsa Indonesia adalah disintegrasi moral. Rasa bangga dan cinta terhadap bangsanya sendiri, perlahan telah mulai terkikis. Sopan santun dan budi pekerti sudah lupa diajarkan. Dengan memperteguh penanaman nilai-nilai Pancasila dikehidupan sehari-hari, maka bangsa Indonesia akan kembali menemukan jati dirinya.
Peran mahasiswa tidak hanya dalam kata-kata saja, tetapi diimbangi dengan adanya pengabdian, sikapkritis, dan tekad yang bulat akan masa depan bangsa ini. Bagaimana cara agar masa depan bangsa Indonesia lebih maju dan masih banyaklagi yang harus dipikirkan untuk negara Indonesia. Kemampuan intelektual hanya mendukung dari pencapaian prestasi dan keberhasilan yang hendak dicapai. Jika memiliki kemampuan soft skill dan berani kritis terhadap segala hal, maka akan menjadi lebih baik di masa depan sebab saat ini yang terjadi banyak orang penting tapi sedikit yang baik.






DAFTAR PUSTAKA
Sanit, Dr. Arbit. 1981. Sistem Politik Indonesia: Kestabilan, Peta Pembangunan Politik dan Pembangunan. Jakarta: PT Rajagrafindo Indonesia.
Soedarsono, Soemarno. 1999. Penyemaian Jati Diri. Jakarta: Gramedia.

Surjana, I Nyoman Naya. 2004. Patologi Nasional. Surabaya: UPT - Mata Kuliah Umum.
Share:
Blue Fire Pointer

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.