Ketika kita merasa melayang-layang bertemu dengan lawan jenis. Merasa nyaman diperhatikan lawan jenis. Dan ingin menjalin suatu hubungan. Atau mungkin itu yang sering kali anak muda katakan jatuh Cinta. Wajar saja ketika merasakan hal tersebut. Apalagi bagi remaja yang sudah akil baligh.
Minggu, 14 Mei 2017
Sabtu, 15 April 2017
Kenikmatan Menjadi Mahasiswa Rantau
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan menghirup udara segar dengan gratis.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesehatan.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan untuk mengisi perut, walau hanya dengan segelas air bening.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan menambah pengetahuan dengan menjadi pembelajar.
Belajar adalah sebuah perjalanan panjang tanpa henti. Itu kataku.
Perkenalkan namaku Fitri Maimunah. Kerap disapa Maemunah. Aku sekarang melanjutkan sedang menempuh S1 di salah satu LPTK di ibukota Jawa Tengah.
Datang jauh-jauh dari Jawa Timur untuk mencari asupan bagi dahaga yang haus akan ilmu pengetahuan. Sebenarnya tidak jauh, hanya berjarak 4 jam perjalanan untuk pulang. Begitu sebaliknya untuk kembali ke Kampus. Tapi jujur aku jarang pulang, paling cepat 2 Bulan sekali, dan paling lama 6 Bulan sekali.
Bukannya tidak rindu rumah atau bagaimana. Jujur aku pun rindu. Hanya saja aku ingin lebih menikmati perjalanan ku disini.
Selamat Berproses, Anak Muda!!!
Masa depan yang cerah sudah menantimu 😊
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesehatan.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan untuk mengisi perut, walau hanya dengan segelas air bening.
Bersyukurlah kamu yang hari ini masih diberi kesempatan menambah pengetahuan dengan menjadi pembelajar.
Belajar adalah sebuah perjalanan panjang tanpa henti. Itu kataku.
Perkenalkan namaku Fitri Maimunah. Kerap disapa Maemunah. Aku sekarang melanjutkan sedang menempuh S1 di salah satu LPTK di ibukota Jawa Tengah.
Datang jauh-jauh dari Jawa Timur untuk mencari asupan bagi dahaga yang haus akan ilmu pengetahuan. Sebenarnya tidak jauh, hanya berjarak 4 jam perjalanan untuk pulang. Begitu sebaliknya untuk kembali ke Kampus. Tapi jujur aku jarang pulang, paling cepat 2 Bulan sekali, dan paling lama 6 Bulan sekali.
Bukannya tidak rindu rumah atau bagaimana. Jujur aku pun rindu. Hanya saja aku ingin lebih menikmati perjalanan ku disini.
Selamat Berproses, Anak Muda!!!
Masa depan yang cerah sudah menantimu 😊
Selasa, 28 Maret 2017
Ayah Ingatkah Engkau
Lelaki paruh baya itu perlahan masuk ke
kamar putrinya. Sudah hampir 2 tahun putri satu-satunya menikah dan tinggal
bersama suaminya, jarang sekali dia pulang ke rumah. Namun, kamarnya ini tetap
dijaga dengan rapi. Ia memutarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Rindu itu
mulai masuk dalam ruang hatinya. Duduk di atas kasur yang telah using itu. Tak
sengaja ia menemukan sebuah buku kecil di bawah kasur.
Assalamu’alaikum,
Ayah..
Bagaimana
keadaan Ayah? Semoga dalam keadaan sehat
dan bahagia.
Ayah,
tahukah engkau kalau putri kecilmu ini sedang rindu yang teramat sangat? Ayah
dulu aku berfikir jika jauh darimu apakah aku bisa? Bagaimana mungkin aku bisa
jauh darimu padahal dari kecil kita selalu bersamamu? Semenjak ibu meninggal
hanya Ayah yang mencintaiku dengan tulus. Sesibuk apapun Ayah, pasti selalu
menyisihkan waktu denganku.
Waktu
pertama kali aku masuk kuliah, Ayah yang mengntarkanku, persis seperti saat aku
Sekolah Dasar dulu. Jauh dari Ayah saat kuliah dulu, sehari tanpa kabar dari Ayah
rasanya lama sekali.
Ayah,
saat Ayah dekat dengan wanita lain selain keluarga dan memperkenalkannya
padaku, dalam fikiranku akan ada pengganti ibu dari hati Ayah. Akan ada
penggantiku dari sisi Ayah. Ayah aku selalu tidak suka dengan semua wanita yang
dekat dengan Ayah selain Ibu.
Suatu hari aku akan menikah. Tinggal bersama
suamiku dan jauh dari Ayah.
Jujur saja, aku belum sanggup jauh dari Ayah.
Bagiku Ayah tetap Raja di hati walau ada sejuta pangeran yang datang
menghampiri ingin masuk ke dalam hati.
Suatu hari ketika ada orang datang ke Ayah dan ingin
meminangku. Aku tahu Ayah akan mempersilahkan, asal lelaki itu bisa menjadi
imam dan menggantikan posisi Ayah. Ayah, aku manja. Selalu. Setiap saat ingin
dekat dengan Ayah. Aku tidak tahu bagaimana caraku dapat beradaptasi jauh dari
Ayah.
Ayah, aku sayang Ayah. Sayang yang teramat. Terima
kasih.
Salam cinta dari Putri Kecilmu,
Mae
Tak terasa air bening mengalir dari mata lelaki itu. Haru
bercampur rindu, pada putri kesayangannya. Putri satu-satunya. Titipan dari
Yang Maha Kuasa. Titipan dari sang istri, setelah ia meninggal. Putrinya
sekarang sudah dewasa. Sudah dipersunting dan hidup bersama pangeran impiannya.
Jumat, 06 Januari 2017
Jusuf Kalla : Pemimpin dengan Seribu Kontroversi
Jusuf
Kalla, hampir semua orang mengenal nama itu. Ia adalah wakil presiden pertama
dengan dua kali masa jabatan yang terpilih melalui pemilihan umum. Sosok yang
sering dipanggil JK ini disebut sebagai “the
real president” karena sering mengambil keputusan yang memiliki pengaruh
besar pada negara. Solusi yang ditawarkan untuk menjawab persoalan negeri ini
bukan hanya inovatif tapi juga kontroversional.
Jusuf
Kalla adalah anak ke-2 dari 17 bersaudara. Lahir dari keluarga yang menjunjung
tinggi nilai agama lantas membuatnya sangat religius. Ayahnya bernama Hadji
Kalla sedangkan ibunya bernama Athirah. JK kerap disapa dengan panggilan Ucu.
Sejak remaja JK harus menerima kenyataan hidup dalam lingkungan yang
berpoligami. JK didewasakan oleh keadaan. Sejak ibunya memilih berpisah dari
ayahnya, ia menjadi pemimpin keluarga menggantikan ayahnya. Menjaga ibunya
untuk tetap bangkit dan memastikan adik-adiknya bisa makan esok hari. Baginya
kebahagiaan keluarganya adalah yang terpenting dan senyuman ibunya adalah yang
utama.
Jusuf
Kalla adalah salah seorang yang tak sudi bila bangsa asing terlalu ikut campur
dalam urusan pembangunan Indonesia tercinta ini. Dalam pandangan JK, birokrat
di Indonesia masih menganut sistem rimba. Lebih taat aturan daripada menubah
aturan demi kesejahteraan rakyat. Peraturan yang dianggap bisa menghambat pasti
diganti JK. Terbukti pada masa kepemimpinannya sebagai Wapres 2004-2009, beliau
berhasil mengurangi ketergantungan dengan pembiayaan modal asing.
Bila
dulu kita lebih sering mengimpor beras maka pada masa kedudukan JK hal itu
dihilangkan. JK mencukupi para petani dengan ketersediaan kebutuhan bibit
melalui Departemen Pertanian. Swasembada akhirnya kembali berhasil dilakukan
setelah sebelumnya berhenti selama sepuluh tahun.
Bangsa
kita adalah bangsa yang kaya. Segala macam hal ada di sini. Akan tetapi, yang
masih menjadi interopeksi mengapa bangsa yang sedemikian kaya ini tidak
maju-maju dan jauh tertinggal dalam hal kesejahteraan? Bangsa Jepang terang
benderang karena mendapat dukungan batu bara hasil impor dari kita, sedangkan
bangsa kita untuk pemenuhan listrik saja belum sepenuhnya merata.
Ketika
konversi dari minyak tanah menjadi gas mencuat ke publik banyak orang kontra
dengan keputusan itu. Namun JK tetap optimis kebijakan tersebut akan berhasil.
Hasilnya seperti yang kita rasakan. Hampir setiap rumah telah menggunakan gas
sebagai bahan bakar untuk memasak. Efisiensi puluhan triliun hasil konversi,
dialokasikan ke sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, dan lain-lain. Kalla
(2013a) mengatakan resiko dari semua keputusan itu adalah ketika salah ia mau
untuk yang bertanggungjawab.
JK
percaya bahwa semua bisa diselesaikan. Belajar dari pengalaman tahun 2005
ketika kebijakan kenaikan harga BBM dilakukan. Indonesia berhasil menaikkan
harga BBM hingga 125 persen tanpa gejolak. Kenaikkan tersebut adalah kenaikkan
tertinggi yang pernah terjadi di dunia dan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Kenaikkan yang bisa dikatakan penuh resiko, tetapi tidak ada rakyat yang marah.
Kenapa? Strategi.
Pertama,
memberi pemahaman sederhana yang dapat diterima masyarakat. Jika BBM tidak
naik, banyak jalan yang rusak. Sekolah akan sulit. Gaji guru banyak yang tidak
bisa dibayar. Bagi warga kurang mampu akan diberikan Bantuan Langsung Tunai
(BLT) untuk mengurani beban. Sebenarnya BBM yang naik itu yang dikonsumsi orang
mampu, yang naik mobil.
Kedua,
timing yang tepat. Keputusan itu
dilakukan sehari sebelum puasa. Pada bulan puasa, terjadi banyak penghematan.
Orang akan memasak dua kali sehari dan jarang jalan-jalan. Dan yang terpenting
pada bulan puasa tidak ada demonstrasi. Karena mereka tidak boleh marah dengan
alasan hawa nafsu.
JK
tidak segan menyebut Bank Indonesia (BI) sebagai perampok karena kebijakannya.
Pada saat menjabat sebagai Menkokesra, pernah JK merobek Memorandum of Understanding (MoU) karena tidak sepaham. Kebijakan
itu dianggap tidak adil bagi rakyat. Pengusaha besar diberikan bunga 45 persen
sedangkan pengusaha 15 persen. Hal ini seperti pembodohan, karena belum seluruh
lapisan masyarakat paham tentang hal tersebut. JK pernah mengatakan untuk
menjual setengah dari kantor BI. Hal ini untuk memperbaiki keungan negara. Di
dunia ini tidak ada kantor bank sentral yang semewah BI. Ini sangat tidak
pantas untuk sebuah negara yang tingkat pendapatannya masih rendah.
Setelah
selesai masa jabatannya menjadi Wapres periode tahun 2004-2009, JK tak lantas
berhenti. Ia terpilih menjadi pemimpin pusat Palang Merah Indonesia (PMI)
secara aklamasi. Ketika ada bencana di berbagai daerah di Indonesaia, ia turun
langsung untuk menangani semampu yang ia bisa lakukan. Selain mengurusi
pengungsi, JK aktif sebagai juru damai. Ia juga sering diminta berpendapat
mengenai isu-isu publik.
Pemimpin
yang baik adalah ketika mereka mau bergerak bukan hanya berteori dan dapat
membaur dengan segala lapisan masyarakat. Kepemimpinannya dikatakan berhasil
adalah ketika tindakannya dapat mensejahterakan masyarakat. Jusuf Kalla adalah
sosok pemimpin yang dibutuhkan Indonesia. Pro dan kontra tak lepas dari
kebijakan yang ia keluarkan. Tapi semangat keyakinannya tak gentar. Ia tak
pernah ragu dalam mengambil keputusan. Kebijakannya sudah melalui pertimbangan
yang matang dan siap menanggung dampak buruk yang timbul jika terjadi. Ia
pemimpin yang tegas bukan keras. Nilai khas dalam gaya memimpinnya bisa
dikatakan “nekat”. Komitmennya untuk mensejahterakan rakyat bukan hanya ucapan
melainkan juga dengan tindakan nyata. Untuk mengubah bangsa ini ke arah yang
lebih yang dibutuhkan tak hanya kemampuan kerja keras, tetapi juga hati nurani.
Sinergi
antara otot, otak, dan hati dari seorang pemimpin dibutuhkan untuk membuat
Indonesia maju. Persoalan negeri ini memang tidak pernah sampai pada ujung.
Datang silih berganti bahkan kadang tumpang tindih. Pendekatan yang dilakukan
JK adalah melalui dialog, dengan masyarakat menanyakan apa yg mereka harapkan,
dengan petinggi memberi pernyataan tentang yang dapat mereka usahakan untuk negeri
ini. Negara kita adalah negara demokrasi, tapi demokrasi ini hanya sebuah cara.
Dalam menyelesaikan masalah diperlukan masyarakat, dengan tujuan akhirnya
tercapai mufakat. Menurut Kalla (2013a), pemimpin itu tidak hanya yang pandai
berbicara saja, tetapi juga tahu bagaimana mengubah cara pikir, meyakinkan
orang, mempengaruhi orang, dan menguasai kondisi lapangan. Selalu ada terobosan
baru dan rakyat pun dipuaskan. Bangsa besar dengan segala permasalahan di
dalamnya ini memang membutuhkan sosok pemimpin yang revolusioner seperti Jusuf
Kalla.
Daftar Pustaka
Kalla,
Jusuf. 2013a. Inspirasi JK. Jakarta:
Noura Books Publishing.
-----
2013b. Jalan Keluar–Logis, Spontan,
Jenaka. Jakarta: Kompas.
Kamis, 29 Desember 2016
Coretan Singkat Sang Aktivis Karbitan
Hidup Mahasiswa!
Saya mengawali tulisan ini dengan kata-kata yang sering diteriakkan aktivis.
Hari ini akhir bulan Desember 2016. Status saya masih sebagai "anak BEM" yang katanya aktivis. Ya, saya bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa salah satu fakultas di universitas negeri di kota Semarang. Beberapa hari lagi saya dan kawan-kawan yang lain akan demisioner dan meninggalkan jabatan. Menuntaskan amanah yang selama ini kami emban.
Bangga rasanya. Menjadi bagian dari organisasi terbesar di tingkat fakultas ini.
Namun rasa bangga saya hanya di awal cerita. Mengapa saya berani mengatakan demikian? Ah, mungkin bagi kamu yang katanya "aktivis mahasiswa" pasti merasa bingung kenapa rasa kebanggaanku menurun. Akan aku ceritakan.
Saya masuk sebagai staff dalam Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) di BEM. Saya menyukai dunia IT dan menyukai jurnalistik sehingga saya pikir cocok masuk di departemen ini. Tetapi sebaliknya, justru saya merasa tidak nyaman di sini. Anggota departemen yang lain menurut saya hebat-hebat. Bahkan ada yang sudah mengikuti lomba design tingkat nasional. Sedangkan saya? Saya mah apa atuh. Sebagai seseorang yang sedang merintis keterampilan multimedia dari awal saya merasa tertinggal jauh dengan mereka. Saya belajar otodidak jadi jangan salahkan kalau tingkat kemampuan dan kecepatan saya menguasai bidang ini kurang. Walaupun memang saya orang yang lelet. Mungkin rasa gengsi saya terlalu tinggi hingga tak mau meminta tolong pada mereka. Seolah ada jarak yang mungkin saya sendiri yang buat.
Kalo dikata aku mundur dari BEM, tidak juga, aku masih sering nongol di sana. Tapi kalo aku aktif di BEM sebenarnya tidak juga.
Motivasi awal masuk BEM? Emm.. apa ya? Oh, iya, sederhana sekali karena melihat pidato Gubernur BEM ku ketika saya masih menjadi mahasiswa baru (maba). Public speakingnya mempesona, persuasif sekali, kena banget buat maba, dan saya ingin sepertinya.
Ketika kamu masuk organisasi LK di kampus kamu akan sedikit-sedikit belajar tentang politik. Dan lihatlah saya sekarang. Telah terkontaminasi itu semua. Tapi saya masih bisa dikata buta politik. Saya hanya senang berdiskusi tentang itu semua tapi belum mendalam pemahaman tentangnya. Kata teman saya, saat ini saya sedang berada di golongan tengah. Terombang-ambing dalam pertanyaan saya tentang itu.
Sebanyak apapun saya menulis di sini, saya tak bisa menampik bahwa saya kecewa. Tapi saya tidak pernah menyesal masuk ke dalam sana. Karena saya banyak belajar di sana. Mendapat pemahan baru bahwa politik kampus itu kejam ketika kamu masih naif dan memberanikan diri masuk ke dalamnya.
Saya mengawali tulisan ini dengan kata-kata yang sering diteriakkan aktivis.
Hari ini akhir bulan Desember 2016. Status saya masih sebagai "anak BEM" yang katanya aktivis. Ya, saya bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa salah satu fakultas di universitas negeri di kota Semarang. Beberapa hari lagi saya dan kawan-kawan yang lain akan demisioner dan meninggalkan jabatan. Menuntaskan amanah yang selama ini kami emban.
Bangga rasanya. Menjadi bagian dari organisasi terbesar di tingkat fakultas ini.
Namun rasa bangga saya hanya di awal cerita. Mengapa saya berani mengatakan demikian? Ah, mungkin bagi kamu yang katanya "aktivis mahasiswa" pasti merasa bingung kenapa rasa kebanggaanku menurun. Akan aku ceritakan.
Saya masuk sebagai staff dalam Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) di BEM. Saya menyukai dunia IT dan menyukai jurnalistik sehingga saya pikir cocok masuk di departemen ini. Tetapi sebaliknya, justru saya merasa tidak nyaman di sini. Anggota departemen yang lain menurut saya hebat-hebat. Bahkan ada yang sudah mengikuti lomba design tingkat nasional. Sedangkan saya? Saya mah apa atuh. Sebagai seseorang yang sedang merintis keterampilan multimedia dari awal saya merasa tertinggal jauh dengan mereka. Saya belajar otodidak jadi jangan salahkan kalau tingkat kemampuan dan kecepatan saya menguasai bidang ini kurang. Walaupun memang saya orang yang lelet. Mungkin rasa gengsi saya terlalu tinggi hingga tak mau meminta tolong pada mereka. Seolah ada jarak yang mungkin saya sendiri yang buat.
Kalo dikata aku mundur dari BEM, tidak juga, aku masih sering nongol di sana. Tapi kalo aku aktif di BEM sebenarnya tidak juga.
Motivasi awal masuk BEM? Emm.. apa ya? Oh, iya, sederhana sekali karena melihat pidato Gubernur BEM ku ketika saya masih menjadi mahasiswa baru (maba). Public speakingnya mempesona, persuasif sekali, kena banget buat maba, dan saya ingin sepertinya.
Ketika kamu masuk organisasi LK di kampus kamu akan sedikit-sedikit belajar tentang politik. Dan lihatlah saya sekarang. Telah terkontaminasi itu semua. Tapi saya masih bisa dikata buta politik. Saya hanya senang berdiskusi tentang itu semua tapi belum mendalam pemahaman tentangnya. Kata teman saya, saat ini saya sedang berada di golongan tengah. Terombang-ambing dalam pertanyaan saya tentang itu.
Sebanyak apapun saya menulis di sini, saya tak bisa menampik bahwa saya kecewa. Tapi saya tidak pernah menyesal masuk ke dalam sana. Karena saya banyak belajar di sana. Mendapat pemahan baru bahwa politik kampus itu kejam ketika kamu masih naif dan memberanikan diri masuk ke dalamnya.
Jumat, 16 September 2016
MASA DEPAN BANGSAKU DIAWALI DARI KAMPUS
“Kenapa sih mahasiswa harus turun ke jalan (demo)? Memangnya bisa mengubah negeri
ini jadi lebih baik?”
Mungkin ini yang ada dalam benak sebagian
besar mahasiswa. Acuh terhadap bangsanya sendiri.
Lembaga pendidikan tinggi (kampus), dikatakan
sebagai miniature sebuah negara yang mengajarkan kepada warganya untuk berinteraksi
dan bersosialisasi. Kampus juga sebagai rumah intelektual pembentukan karakter.
Mahasiswa merupakan bagian dari sebuah kampus yang menjadi sorotan utama. Melalui
universitas inilah mahasiswa akan ditranfer pengetahuan (knowledge), keahlian (skill),
dan perilaku (behavior) sehingga kelak
ia dapat berkompetisi pada persaingan global.
Konspirasi Mahasiswa dan
Romantisme Pergerakannya
Mahasiswa merupakan garda terdepan setiap
perubahan penting dan mendasar di negeri ini. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari
perjalanan sebuah bangsa, baik sebagai pelopor penggerak, bahkan sebagai pengambil
keputusan. Banyak orang kritis yang lahir dari aktivis kampus.
Mulaidari 1908, lahirnya Boedi Oetomo telah
membangitkan semangat perjuangan untuk melawan kolonialisme dengan cara yang
cerdas. Sejak diikrarkannnya Sumpah Pemuda 1928 juga tidak terlepas dari peran penting
kaum muda, hingga berlanjut pada Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Pada periode 1966 gerakan mahasiswa masih
bersifat lokal, berbasis kampus atau kedaerahan. Gerakan mahasiswa yang lebih
sistematis terjadi setelah terbentuknya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia), dilanjutkan dengan TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat). Jika angkatan
’45 lahir dari romantisnya perang untuk memperoleh kemerdekaan, sedangkan pada
angkatan ’66 lahir dari krisis sosial, ekonomi, danpolitik, konsep perjunagan pada
waktu penjajahan tidak dipergunakan lagi tetapi lebih mengarah kepada pengisian
kemerdekaan.
Pada 1997, dengan gerakan reformasinya,
mahasiswa mampu mendobrak ketidakadilan sistem politik dan ekonomi.Periode pasca
1998, gerakan mahasiswa terjebak pada romantisme heroism peristiwa Mei 1998. Gerakan
mahasiswa cenderung kembali bersifat gerakan lokal meskipun telah dibentuk BEM
SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia). Berbicara tentang mahasiswa dan
gerakan yang dilakukan memang tidak pernah ada ujungnya.
Bangsa ini lahir dari keberagaman dengan
satu semangat tujuan. Semangat nasionalisme yang menyatukan bangsa Indonesia
sehingga tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di negeri ini. Nasionalisme adalah
suatu sifat, faham, kekuatan, dankesadaranpikiransejati, yang merupakan suatu kecintaan
dan loyalitas terhadap mayarakat, bangsa dan negara sendiri. Naionalisme dapat tumbuh,
berkembang, dan hidup sepanjang perjalanan suatu bangsa. Semangat ini pula yang
menginspirasi mahasiswa untuk bergerak dan berjuang.
Dari urun angan, urun tangan, hingga urun
nyawa pun mereka lakukan. Karena tugas mahasiswa bukan cuma belajar di kelas,
presentasi, mengerjakan tugas, datang ke seminar, dan kegiatan ke kampusan yang
lain, lebih dari itu mahasiswa menjadi penyangga peradaban yang akan dilalui bangsa
ini kedepannya. Mahasiswa adalah sebagai the
moral force, social control, dan agent of change sehingga ia dituntut untuk
berpikir rasional dan kritis mencari solusi dari sebuah masalah.
Tantangan Mahasiswa di
Masa Kini
Mahasiswa dengan statusnya yang
memiliki ‘Maha’ atas kesiswaannya, jelas menjadi generasi terdepan di kalangan kaum
muda dengan proses pendidikan panjang yang telah dilewatinya. Indonesia
memiliki persediaan sumber daya manusia ke depan (iron stock) dengan karakter baik (good character) dibarengi kemampuan dan high competency yang harus dikuasai, oleh keberadaan mahasiswa.
Sebagai kalangan kelas menengah, mahasiswa
merupakan elemen penting pengontrol kebijakan pemerintah baik itu dalam tataran
nasional maupun lokal. Selain itu, mahasiswa merupakan pengabdi masyarakat yang
diamanahkan sebagai pembina bangsa melalui aplikasi ilmu yang bermanfaat bagi peningkatan
kualitas hidup masyarakat khususnya rakyat kecil. Pola perjuangan mahasiswa dapat
dibagi menjadi dua, yaitu structural dan kultural. Pola struktural dalam perjuangan
mahasiswa merupakan sebuah domain yang berkarakter politis dan memiliki prioritas masa kini. Hal
ini meliputi pengkritisan kebijakan di kalangan pemerintah, penyaluran aspirasi
dari rakyat kecil kepada wakil rakyat, serta pengawal dari kepentingan rakyat terhadap
struktur pemerintahan. Sedangkan secara kultural, polanya berkarakter pembinaan
serta mimiliki visi masa depan sebagai investasi pembangunan.
Tatangan lain yang tidak ringan bagi Bagsa
Indonesia adalah disintegrasi moral. Rasa bangga dan cinta terhadap bangsanya sendiri,
perlahan telah mulai terkikis. Sopan santun dan budi pekerti sudah lupa diajarkan.
Dengan memperteguh penanaman nilai-nilai Pancasila dikehidupan sehari-hari,
maka bangsa Indonesia akan kembali menemukan jati dirinya.
Peran mahasiswa tidak hanya dalam
kata-kata saja, tetapi diimbangi dengan adanya pengabdian, sikapkritis, dan tekad
yang bulat akan masa depan bangsa ini. Bagaimana cara agar masa depan bangsa
Indonesia lebih maju dan masih banyaklagi yang harus dipikirkan untuk negara
Indonesia. Kemampuan intelektual hanya mendukung dari pencapaian prestasi dan keberhasilan
yang hendak dicapai. Jika memiliki kemampuan soft skill dan berani kritis terhadap segala hal, maka akan menjadi
lebih baik di masa depan sebab saat ini yang terjadi banyak orang penting tapi sedikit
yang baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Sanit,
Dr. Arbit. 1981. Sistem Politik Indonesia: Kestabilan, Peta Pembangunan Politik
dan Pembangunan. Jakarta: PT Rajagrafindo Indonesia.
Soedarsono,
Soemarno. 1999. Penyemaian Jati Diri.
Jakarta: Gramedia.
Surjana,
I Nyoman Naya. 2004. Patologi Nasional.
Surabaya: UPT - Mata Kuliah Umum.











