Kadang hidup butuh imajinasi negeri dongeng

Rabu, 24 Juni 2020

Mendongeng dan Bercerita dengan SAE (Seru, Asyik, dan Efektif)


Materi ini adalah hasil dari catatan kuwap yang diselenggarakan oleh PT. Rumah Pensil Publisher pada tanggal 3 April 2020. Pematerinya merupakan pendiri Rumah Pensil Publisher sekaligus penulis lebih dari 400 buku anak, Kang Eka Wardhana.

APA ITU MENDONGENG? APA ITU BERCERITA?
       Dongeng adalah kisah penuh kejadian luar biasa dan penuh khayal yang bukan merupakan kisah nyata. Sedangkan, cerita adalah kisah tentang perbuatan dan pengalaman orang serta kejadian baik sungguh terjadi ataupun tidak. Jadi, dongeng itu tidak nyata dan sangat mengandalkan imajinasi, berbeda dengan cerita yang bisa jadi diambil dari kejadian nyata dan tidak terlalu mengandalkan imajinasi.
       Kisah para Nabi masuk ke dalam kategori cerita bukan dongeng. Cerita fabel yang melibatkan tokoh-tokoh hewan, masuk ke dalam dongeng apalagi bila unsur imajinasinya tinggi.

TUJUAN BERCERITA DAN MENDONGENG
Sebenarnya apa sih yang dituju dari mendongeng/bercerita?
Pastinya lebih dari sekedar membuat anak-anak senang, bukan?
     Ternyata mendongeng dan bercerita memang mempunyai efek yang luar biasa, yaitu dapat mengubah karakter anak. Setelah memberi teladan, bercerita dan mendongeng adalah cara paling efektif untuk mengubah karakter anak. Meski begitu, harus sangat disadari bahwa efek luar biasa ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat perlu usaha mendongeng dan bercerita yang teratur agar hasil ini tercapai. Agar hasilnya signifikan, bercerita dan mendongeng perlu dilakukan terus menerus dan bersungguh-sungguh.


KENAPA MENDONGENG DAN BERCERITA SEOLAH MENAKUTKAN?
         Padahal pekerjaan mulia, tetapi kenapa banyak orang enggan dan nggak pede mendongeng dan bercerita ya? Aneh nggak ya?
          Sebenarnya nggak aneh sih, penyebab utamanya sudah jelas: karena kita selalu membayangkan menjadi orang lain saat mendongeng. Kita membayangkan bahwa untuk mendongeng itu kita harus jadi sangat atraktif, menarik, lengkap dengan kemampuan akting dan artikulasi yang hebat. Pokoknya mirip artis lah.
          Benar nggak sih pikiran kayak gitu?
Sebenarnya nggak salah, karena hal itu bisa membuat kita termotivasi untuk jadi lebih baik. Tetapi.... buat kebanyakan orang yang baru memulai, hal itu malah akan jadi membebani. Akibatnya timbul rasa kurang percaya diri dan mendongeng pun jadi kegiatan yang menakutkan. Kesimpulannya: mental kita jadi kalah sebelum bertanding.
          Jadi, kunci mulai mendongeng bagi pemula adalah: MENJADI DIRI SENDIRI.


URUTAN LANGKAH MENDONGENG S A E (SERU, ASYIK, EFEKTIF)
Berikut ini urutan langkah praktis untuk mendongeng, yang saya bagi dalam 3 bagian:
1.            Persiapan
2.            Mendongeng
3.            Setelah Mendongeng
Kita lihat satu per satu yuk...

1.            PERSIAPAN MENDONGENG
Persiapan mendongeng ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu:

A.            PERSIAPAN MENTAL
Inilah hal terberat untuk dilakukan. Terutama karena filosofi dongeng yang saya anut adalah kita semua seharusnya bisa mendongeng. Mungkin ada orang yang berprofesi sebagai pendongeng, tetapi bagi saya mendongeng seharusnya bisa dilakukan semua orang yang berhubungan dengan dunia anak.
Jadi saat kita menjadi ayah, ibu, Pak Guru, Bu Guru, sukarelawan anak, paman, bibi dan lain-lain, saat itulah seharusnya kita menjadi seorang pendongeng. Inilah pendongeng sejati, pendongeng yang tidak mengharapkan upah dan ketenaran, selain pahala dan membaiknya karakter anak-anak.
Hal yang perlu diingat dalam persiapan mental mendongeng adalah:
             Menyadari bahwa mendongeng/berkisah bukan masalah bisa nggak bisa atau mau tidak mau, tetapi adalah keharusan. Karena untuk mengubah karakter ada dua pelajaran efektif: keteladanan dan melalui kisah. Bila keteladanan tak selalu bisa ditampilkan karena keterbatasan waktu kita berinteraksi dengan anak, maka kisah dan dongeng adalah sebuah keharusan.
             Jangan memiliki mental seperti artis yang ingin semua penontonnya terpesona serta kecewa saat penontonnya kecewa. Milikilah mental seorang pendidik dimana fokusnya adalah menyampaikan hikmah, bukan menjadi seorang bintang. Dengan demikian, walaupun para pendengar kisah/dongeng kita terlihat bosan atau tidak tertarik, itu bukan masalah utama, selama kita sudah berusaha sebaik mungkin dan yakin bahwa kita telah menyampaikan ilmu atau inspirasi walau hanya sedikit.
             Jadi mendongeng/berkisah sebagai bagian dari ibadah. Al-Qur’an sendiri banyak berisi kisah dan bahkan memiliki sebuah Surah bernama Al-Qasas (Kisah-Kisah). Jadi berkisah adalah bagian dari metode pendidikan yang diajarkan Islam. Karena itu menggunakan metode ini dengan niat yang benar akan mendatangkan pahala dan berkah.
             Berusaha untuk tetap cerita. Mendongeng itu kegiatan yang sejatinya membawa rasa senang, ceria dan bahagia. Nah, hal itu tidak keluar bila pendongengnya tidak membawa suasana seperti itu. Jadi tetap ceria dan santai. Hanya saja sikap santai ini akan keluar bila kita sudah mempersiapkan diri dengan baik pula.

B.            PILIH CERITA
Memilih cerita sangat penting. Cerita atau kisah atau dongeng seperti makanan bagi seorang pencerita. Bila cocok di lidah, ia akan sering dan semakin mahir diceritakan.
Karena itu cerita/kisah/dongeng penting untuk dipilih dengan baik dari sejak awal. Agar lebih mudah dan lebih cepat terasa cocok di hati seorang diulang pendongeng.
Namun  cerita/dongeng/kisah tentu tak bisa dipilih semau selera kita, ada hal-hal yang harus diperhatikan saat memilihnya. Beberapa di antaranya adalah:
             Pilih cerita yang tak merusak aqidah. Cerita/kisah/dongeng tentang hantu, monster jahat, sihir luar biasa, akan mengubah karakter anak, tetapi menjadi sebaliknya dari yang kita harapkan. Contohnya: anak yang diceritakan kisah menyeramkan, sangat besar kemungkinannya menjadi lebih penakut dari sebelumnya.
         Pilih cerita yang beralur sederhana. Menceritakan kisah Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wassalam dari sejak lahir sampai wafat? Boleh saja, tetapi dijamin bakalan tidak cukup waktunya. Bila ingin menceritakan kisah Beliau Shalallaahu ‘alaihi wassalam, bagi menjadi banyak segmen: masa kecil Beliau, kisah Isra Mi'raj, kisah kedermawanan, dan lain-lain. Cerita beralur sederhana akan lebih singkat dan membuat kita lebih fokus.
             Pilih cerita atau dongeng yang sesuai dengan usia pendengar/siswa. Anak-anak TK dan PAUD, misalnya, lebih suka kisah fabel dan imajinatif. Anak usia di atas kelas 3 atau 4 SD, lebih suka yang berbentuk petualangan atau kisah kehidupan sehari-hari. Jangan memilih cerita yang terlalu berat atau justru terlalu ringan buat para calon pendengar kita.
             Pilih cerita yang tokohnya tidak terlalu banyak dan berkarakter jelas. 3 atau bahkan 2 tokoh cerita sudah cukup untuk satu kali mendongeng/berkisah. Pilih cerita dengan karakter tokoh yang jelas: baik, sombong, iri hati, dermawan, dan lainnya.
             Pilih cerita dengan pesan yang jelas, mudah dan bernilai positif. Misalnya: sombong itu tidak baik, kebaikan pasti menang, usaha keras pasti membuahkan hasil dan seterusnya.
           Pilih cerita yang sesuai dengan tema yang diangkat. Misalnya tema kebersihan lingkungan. Maka cerita pun harus mencerminkan pesan yang disampaikan. Bila sulit mencari cerita yang tepat dengan tema, silakan memodifikasi cerita yang sudah ada dengan banyak menyelipkan pesan tentang kebersihan.
        Jangan pilih cerita yang mengandung adegan kekerasan dan vulgar. Bila ada sedikit adegan kekerasan seperti perang atau pertarungan, atur agar tidak disampaikan apa adanya. Tetapi sampaikan hasilnya atau prosesnya sekilas agar tidak terlalu detil.
Setelah selesai memilih cerita, kita lanjutkan ke langkah persiapan berikutnya ya...

C.            MERANCANG AKSI
Aksi di sini maksudnya adalah saat kita mendongeng. Jadi demi kelancaran saat kita mendongeng nanti, sebaiknya kita rancang apa saja yang akan kita lakukan. Persiapan aksi yang baik akan menambah rasa percaya diri kita pastinya.
Sebagai bagian dalam merancang aksi, sebaiknya yang kita siapkan adalah:
          Bagaimana cara kita akan pertama kali ke atas panggung: dengan berjalan biasa? Atau pakai semacam akting? Misalnya dengan pura-pura berlari dan kelelahan karena mencari-cari dulu tempat mendongeng, dan lain-lain.
       Bagaimana melakukan Ice Breaking? Ice Breaking adalah teknik mencairkan suasana sekaligus menarik fokus audiens kepada kita. Ini adalah teknik yang perlu sekali untuk dilakukan. Beberapa di antaranya adalah dengan melakukan tebak-tebakan, melakukan perkenalan tapi dengan tebak-tebakan (misalnya dengan bilang: “Siapa yang tahu nama Bapak/Ibu? Nama Bapak/Ibu diawali dengan huruf A lho...” dan seterusnya). Contoh ice breaking yang lain adalah mengajak bernyanyi dan menari bersama.
           Berusaha mencari seakurat mungkin informasi tentang berapa pendengar dongeng, berapa rentang usianya, dimana lokasinya (dalam ruangan, luar ruangan, dll), kesiapan sound system bila pendengarnya banyak, jam berapa diadakan, dalam rangka apa, mungkin ada pesan yang ingin disampaikan secara khusus oleh penyelenggara dan lain-lain. Saya sendiri sering terpaksa berimprovisasi saat informasi akan hal-hal di atas ternyata berbeda dengan kenyataan di lapangan.
          Apakah kita mendongeng dengan atau tanpa alat peraga? Bila menggunakan alat peraga, macamnya apa: boneka, topeng, atau lainnya. Bila tanpa alat peraga, apakah mengandalkan suara dan akting atau membaca buku ditambah ekspresi? Saya sendiri sangat suka menggambar di papan tulis sebagai alat bantu mendongeng.
     Apakah kita akan mendongeng sendiri, berdua atau bersama tim? Semua ini perlu dipersiapkan dengan baik. Kelebihan mendongeng sendiri adalah kita bisa merancang aksi apa saja dan berlatih kapan saja tanpa tergantung orang lain. Namun kekurangannya, semua beban persiapan tertumpu ke pundak kita dan perlu persiapan mental yang lebih baik.
        Apakah kita akan menggunakan make up dongeng atau alami saja? Make up dongeng adalah make up untuk mendongeng seperti misalnya menggunakan kumis palsu, kaca mata lucu, termasuk menggunakan seragam khusus yang khas kita, misalnya kain sarung yang disilangkan ke bahu, dan lain-lain. Penggunaan make up dongeng biasanya membuat tampilan kita lebih menarik.
    Merencanakan waktu mendongeng: berapa lama kita akan bercerita? Mengingat mempertahankan perhatian anak-anak pada kita adalah hal yang berat. Semakin lama, tentu semakin berat. Kita harus mempersiapkan diri sesuai dengan waktu yang disediakan dengan sebaik mungkin.
        Merencanakan improvisasi. Yang namanya improvisasi ya biasanya karena ada hal yang terjadi di luar rencana. Tetapi tak ada yang sempurna, ada saja hal yang terjadi di luar rencana. Jadi, kita harus mempersiapkan rencana cadangan bila rencana utama tak bisa jalan. Misalnya: kalau waktunya ternyata molor sehingga jatah waktu kita jadi singkat, atau waktunya malah jadi diperpanjang, atau pesertanya bertambah di luar perkiraan, dan lain-lain.
         Mempersiapkan alur cerita: mulai dari pembukaan, inti dongeng dan penutup. Kita benar-benar harus hapal dan menguasai materi dongeng. Karena saat di atas panggung dongeng, banyak hal yang membuat konsentrasi kita akan jalan cerita teralihkan. Sehingga bila hanya setengah hapal atau hanya hapal kira-kira, bisa-bisa di tengah jalan kita berhenti karena lupa alur cerita. Atau alur ceritanya jadi terbalik dan semacamnya deh.
          Merencanakan dimana tempat dan waktu untuk berinteraksi dengan audiens. Misalnya: menanyakan apa yang akan dilakukan sang tokoh cerita menghadapi masalahnya, atau meminta anak-anak menirukan ekspresi sang tokoh dan lain-lain.



D.            PERSIAPAN PERALATAN
Jangan lupa untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Gaya mendongeng itu kan tergantung kecenderungan masing-masing. Ada yang suka mendongeng/berkisah dengan lisan plus akting, sehingga peralatan yang diperlukan minimalis saja. Tetapi ada juga yang lebih suka mendongeng dengan bantuan alat peraga.
Persiapan peralatan untuk mendongeng meliputi hal-hal berikut:
             Untuk make up dongeng seperti kumis atau janggut, Anda bisa membuatnya dari kertas yang satu sisinya ditempeli kapas atau benang wol. Sementara di sisi lainnya dipasang double tape untuk merekatkannya ke wajah Anda.
             Sementara topeng bisa dibuat dengan berbagai cara: ada yang menggunakan tongkat kecil, sehingga satu tangan memegang stik untuk membuat topeng terpasang di wajah. Hal ini dilakukan biasanya saat satu pendongeng memainkan berbagai tokoh berganti-ganti. Topeng yang dipasangi karet untuk dipasang ke belakang kepala adalah topeng yang lebih umum. Namun kelemahannya tidak bisa digunakan untuk berganti tokoh dengan cepat.
             Boneka peraga ada yang berbentuk boneka tangan atau boneka jari. Biasanya yang awet untuk digunakan adalah boneka kain yang sudah jadi. Namun pilihannya sangat terbatas mengingat boneka yang sudah jadi sulit dikaitkan dengan cerita yang kita punya. Kecuali Anda memiliki kemampuan ventriloquis (bersuara perut), sehingga bisa berinteraksi bolak-balik dengan boneka yang Anda pegang karena boneka seolah bersuara sendiri. Boneka tangan sederhana bisa dibuat dari kertas. Untuk jumlah pendengar yang terbatas (tidak sampai 10 orang) boneka jari bisa digunakan. Boneka jari sederhana juga bisa dibuat sendiri dari kertas dengan gramatur berat agar tidak mudah rusak.
             Bagi yang senang menggambar, peralatan yang perlu disiapkan adalah papan tulis white board dengan spidol atau flip chart kertas. Atau bisa juga membuat gambar-gambar besar yang diperlihatkan satu per satu pada para pendengar.
             Bila Anda berencana bercerita dari buku, bisa dipersiapkan buku dengan ukuran besar dengan gambar tiap halaman yang siap diperlihatkan pada para pendengar. Buku kecil lebih sulit dilihat oleh anak-anak pendengar, kecuali dalam jumlah yang sedikit. Anda juga bisa bercerita dengan buku di tangan tapi tanpa memperlihatkan gambar. Namun intonasi dan ekspresi juga gestur tubuh harus dimainkan agar suasana jadi lebih hidup.

E.            BERLATIH
Dalam kegiatan apapun, berlatih sangat menentukan hasil. Nah, demikian juga dengan mendongeng. Berikut latihan yang dapat digunakan:
             Mengulang jalan cerita. Semakin detil apa yang kita hapal, semakin baik persiapan kita.
             Berlatih menggunakan alat peraga. Bila tidak terlatih, penggunaan alat peraga bisa jadi bumerang karena dapat membuyarkan konsentrasi saat mendongeng. Akibatnya cerita jadi tersendat bahkan berubah. Kesimpulannya: dongeng kita jadi tidak selancar seharusnya.
             Berlatih berimprovisasi, termasuk dalam hal ini menyiapkan cerita/dongeng cadangan. Selalu ada kemungkinan dimana cerita yang kita sudah siapkan ternyata tidak sesuai dengan tema acara atau audiens yang hadir. Misalnya kita sudah siapkan cerita Islam, tetapi ternyata yang hadir banyak yang non muslim. Maka kita harus siap berimprovisasi berupa mengganti cerita dengan yang lebih umum atau membahasakan istilah-istilah Islam dengan yang lebih dikenal umum.
             Melatih vokal. Tak perlu seideal latihan drama atau teater, cukup mengulang kisah yang akan disampaikan. Vokal harus diucapkan dengan jelas dan tenang. Diupayakan juga bisa mengubah intonasi dan tipe vokal sesuai dengan tokoh yang berbeda. Karena itu disarankan agar tidak memilih tokoh cerita yang terlalu banyak.
             Melatih ekspresi. Populer dilakukan di depan cermin. Peragakan sekaligus perhatikan ekspresi wajah kita saat melakukan simulasi cerita di depan cermin. Saat di depan cermin fokuskan ke ekspresi atau gestur agar kita bisa memperbaiki dan mencari bentuk yang tepat. Ekspresi biasanya dikaitkan dengan emosi. Jadi upayakan ekspresi kita sesuai dengan emosi yang disampaikan: sedih, marah, senang, angkuh, dan lain-lain.
             Melatih gestur. Coba bercerita sambil melangkah, bergerak, melompat dan melakukan gestur sesuai tokoh yang dimainkan. Contoh: bertolak pinggang dengan dagu diangkat dan langkah panjang-panjang perlahan saat memerankan raja yang congkak. Atau tertatih bertopang tongkat saat memerankan kakek atau nenek.
             Melatih momen berinteraksi dengan anak-anak audiens. Misalnya menanyakan hal penting di tengah cerita, menanyakan tebak-tebakan, bereaksi yang lucu atau ceria terhadap jawaban anak yang kurang tepat, dan lainnya.
             Berlatih menyampaikan cerita dengan kalimat-kalimat sederhana dan kata-kata yang mudah. Bila ingin menyelipkan pengajaran tentang istilah yang belum dikenal, disiapkan juga penjelasannya. Misalnya kata “Karantina”. Siapkan dengan penjelasan yang mudah dan disertai contoh. Mungkin dengan mengangkat kasus covid-19 dan lainnya.
             Melatih mental untuk tetap tenang dan ceria. Mental akan lebih siap bila persiapan dan kesiapan kita baik. Agar mental tetap tenang, bawa hati dalam suasana ringan dan hilangkan beban. Beban datang karena takut gagal dan itu wajar. Tak ada kata gagal dalam mendongeng, yang ada hanyalah lancar atau tidak dan itu sudah biasa. Bahkan orang yang sudah biasa bercerita dan mendongeng pun sering kali merasa dongengnya kali ini tidak selancar biasanya. Selalu tanamkan dalam hati bahwa kita adalah seorang pendidik yang menyampaikan ilmu, bukan artis yang sedang menghibur.
             Berlatih menyamakan kondisi psikologis dengan audiens. Namun berusaha agar jangan kita yang terhanyut, misalnya saat anak-anak sedang bosan, kita malah hanyut jadi bingung. Tetapi upayakan agar suasana hati anak-anak ikut seceria dan seoptimis suasana hati kita.

2.            MENDONGENG
Apa saja yang kita lakukan saat mendongeng? Yuk kita bahas. Namun sebelumnya mengingatkan bahwa kegiatan saat mendongeng sangat dipengaruhi tahap persiapan sebelumnya.
Kita bagi saat mendongeng menjadi 3 bagian besar: Pembukaan, Pertengahan Dongeng dan Mengakhiri Dongeng.

A.            PEMBUKAAN
Di awal dongeng, ditentukan apakah anak-anak audiens akan tertarik atau tidak. Jadi, awal dongeng merupakan fase yang menentukan lho. Nah, hal-hal yang perlu diperhatikan di awal dongeng ini adalah:
             Bersikap tenang dan optimis bahwa dongeng kita akan lancar serta berhasil menyampaikan pesan yang diinginkan. Pertahankan sikap ini sampai dongeng selesai.
             Berusaha menarik perhatian audiens sejak awal. Jadi, lakukanlah ice breaking atau dengan penampilan menarik saat baru tampil. Misalnya dengan kostum yang atraktif atau make up dongeng yang membuat anak tertarik.
             Menampilkan wajah yang ceria, terutama saat menyapa anak-anak dan saat berinteraksi di tengah dongeng berlangsung. Banyak tersenyum dan bersikap ramah.
             Memahami dulu kondisi psikologis audiens. Jadi, jangan terburu-buru memulai cerita sebelum kita yakin anak-anak sudah siap mendengarkan. Itulah saat ketika teknik ice breaking menjadi hal yang menentukan. Kadang bila terpaksa, pendongeng bisa “memaksa” audiens dengan mengatakan semisal: “Mau mendengarkan atau tidak? Kalau mau harap semua tenang ya...”. Namun bila bisa hal semacam ini dihindari.
             Amati dan pelajari sebentar kondisi panggung: bila panggungnya kecil, kita atur agar gerakan kita tak perlu memakan banyak tempat. Sebaliknya bila panggungnya luas. Lakukan hal ini sebelum kita dipersilakan naik ke panggung.
             Amati jarak antara kita dengan audiens. Tak ada jarak akan merepotkan, demikian juga bila terlalu jauh. Bila jarak sangat dekat, upayakan kita berdiri dan audiens duduk agar jarak fisik tetap ada. Jarak fisik yang terlalu dekat bisa membua audiens anak-anak terdorong untuk menyentuh peraga dan lainnya sehingga akan mengganggu konsentrasi. Bila jarak terlalu jauh, putuskan untuk sering turun panggung dan mendekati audiens. Lakukan juga ini sebelum kita dipersilakan naik panggung.
             Jadikan ajang perkenalan kita menarik. Misalnya dengan menebak apa kesukaan anak-anak di sana dan lainnya. Namun jangan terlalu lama, karena waktu perhatian anak terbatas. Manfaatkan untuk menyampaikan dongeng dibanding menghabiskannya di awal. Terlalu lama perkenalan akan membuat kita terburu-buru saat mendongeng.
             Bisa memberi tahu audiens kita akan bercerita tentang apa atau apa judul cerita, bisa juga tidak memberi tahu.
             Kumpulkan dulu semangat, lalu mulailah bercerita dengan semangat penuh.

B.            PERTENGAHAN DONGENG (KLIMAKS)
Ketika dongeng sudah mulai terbangun dan mulai mencapai klimaks cerita, yang harus dilakukan adalah:
             Menguasai panggung. Maksudnya, kita memastikan untuk bisa bergerak seluas mungkin di atas panggung. Kebanyakan orang yang baru mulai mendongeng, terpaku di posisinya, baik di tengah maupun agak ke tepi. Padahal bergerak ke sana-kemari di atas panggung sangat diperlukan, terutama bila audiensnya adalah anak-anak yang masih kecil. Sebab anak-anak PAUD, TK bahkan kelas awal SD tidak selalu fokus pada apa yang didengar, tetapi juga sangat tertarik pada apa yang mereka lihat.
             Berusaha menyampaikan cerita dengan vokal yang jelas dan mudah dipahami. Tak perlu terburu-buru, tetap tenang dan menikmati. Bila pikiran kita terburu-buru dengan waktu yang terbatas, kita akan terdorong untuk mempercepat cerita. Karena itu di awal sudah disarankan agar menyampaikan cerita dengan alur sederhana, agar kita bisa lebih santai dan lebih mudah mengingatnya.
             Selalu memperhatikan kondisi audiens saat bercerita: apakah masih mengikuti dengan fokus atau sebagian sudah mulai bosan dan teralih perhatiannya?
             Bila perhatian audiens sebagian besar sudah tidak fokus pada kita, hentikan sementara dongeng/kisah, lalu lakukan semacam ice breaking di pertengahan. Caranya dengan tebak-tebakan yang bisa juga diberi hadiah ringan semacam gantungan kunci, dll. Juga bisa mengajak anak melakukan tepuk tertentu, atau bergerak ceria sesuai arahan kita, dll. Setelah itu segera lanjutkan dongeng, tetapi dengan kemungkinan fokus tak bisa terlalu lama bertahan.
             Hindari sikap menggurui, jangan sedikit-sedikit memberi tahu mana yang benar dan salah, memberi tahu apa yang seharusnya anak-anak lakukan dan semacamnya. Karena justru kelebihan sebuah dongeng atau cerita adalah menyampaikan hikmah tanpa menggurui. Karena itu biarkan dongeng mengalir dan percayakan pada anak untuk mengambil hikmahnya.
             Menikmati dongeng yang kita sampaikan. Bila kita ingin anak-anak menikmati dongeng kita, maka sudah pasti kita sendiri harus menikmatinya. Salah satu cara menikmati dongeng kita adalah dengan memperhatikan ekspresi ceria audiens dan merasa bahagia dengannya.
             Agar audiens selalu fokus pada dongeng kita, ajak mereka berinteraksi. Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak-anak menebak apa yang selanjutnya terjadi. Atau menebak tokoh yang muncul berdasarkan ciri-cirinya. Misalnya, saat kita ingin menceritakan kemunculan Jerapah, bisa kita tanyakan, “Lalu muncullah hewan yang lehernya sangat panjang. Hewan apa ya?”
             Usahakan agar selalu menghadapkan tubuh kepada para pendengar, dengan demikian kontak dengan mereka akan selalu terjaga. Tanpa sadar, karena fokus pada alat peraga, semisal boneka tangan, kita suka membelakangi anak-anak pendengar. Hal ini membuat kita kurang bisa meraba seberapa tertarik anak-anak pada cerita kita.
             Bila ada satu atau dua anak yang mencoba menginterupsi atau bertanya atau mengajukan pendapatnya tanpa kita inginkan, tak usah beri dia banyak perhatian. Cukup kasih senyum atau ucapan singkat, “Bagus” atau “Sip”, lalu teruskan cerita. Bila terlalu banyak diberi perhatian, fokus anak-anak yang lain pada cerita akan buyar dan ada kemungkinan mereka ikut menanggapi juga.
             Bila mendongeng berkelompok, jaga kekompakan dan keharmonisan. Juga yang terpenting adalah tetap memperhatikan kondisi psikologis audiens. Jangan menjadi seolah seperti saling bicara di panggung tapi tak memedulikan kondisi audiens.

Catatan:
Mengembalikan perhatian anak ketika di tengah dongen konsentrasi anak mulai terpecah serta mengurangi rasa boring atau bosan dan membangkitkan kembali mood anak.
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah waktu dan kondisi. Bila waktu dongeng terlalu lama, tentu saja anak-anak akan mulai lelah. Semakin kecil usia anak, semakin sedikit durasi fokusnya. Jadi sesuaikan lama mendongeng dengan usia anak. Sebentar tapi sering lebih efektif dari lama tapi jarang dilakukan.
Juga perhatikan kondisi. Bila kondisi anak-anak sedang kelelahan atau lapar atau ada yang sakit, tentu konsentrasi mereka sulit terfokus. Jadi perhatikan waktu mendongeng. Bagi anak-anak kecil di sekolah, waktu terbaik adalah pagi hari selepas buka kelas.
Buat anak yang sudah lebih besar, seperti kelas 5 atau 6 SD yang sedang mabit, misalnya, bisa dilakukan malam hari, tetapi juga perhatikan kondisi kebugaran mereka.
Untuk membangkitkan mood bisa dilakukan ice breaking ulang di tengah cerita atau mengajak mereka bernyanyi dan bergerak dulu sebelum melanjutkan.

C.            MENGAKHIRI DONGENG
Setelah melewati puncak cerita, tibalah saatnya mengakhiri dongeng. Apa saja ya yang perlu diperhatikan dan dilakukan saat mengakhiri dongeng ini? Yuk, kita simak:
             Biasanya saat klimaks cerita, pesan sudah disampaikan pada anak-anak. Nah di saat itulah waktunya mengakhiri cerita. Yang harus diingat, jarak antara klimaks cerita dengan akhirnya jangan terlalu panjang. Biasanya anak lebih mudah mengingat apa yang ia dengar atau lihat di akhir dibanding yang ia dengar dan lihat di awal. Bila jarak ending terlalu lama, anak akan mudah lupa dengan pesan yang disampaikan dalam klimaks cerita.
             Dipersilakan mengajak anak-anak menyimpulkan pesan yang disampaikan. Tetapi sebaiknya memang meminta anak-anak ikut menyimpulkan. Bila disampaikan oleh pendongeng, hasilnya kurang terserap. Jangan juga terlalu menggurui dengan cara memaksakan anak-anak menerima pesan-pesan, padahal sudah disampaikan secara samar dalam cerita. Hal ini akan membuat nuansa menyenangkan dari sebuah cerita jadi hilang. Salah satu cara mengajak anak menyimpulkan cerita misalnya dengan berkata, “Jadi siapa yang paling pandai di dunia?” maka berdasarkan cerita yang didengar, anak-anak akan menjawab, “Allah!”


3.            SETELAH MENDONGENG
Setelah menyelesaikan suatu dongeng, pendongeng biasanya akan merasakan banyak sekali kesan. Ada kesan positif, ada juga kesan yang kurang positif. Kesan positif biasanya berkaitan dengan lancar tidaknya dongeng dan respon menyenangkan dari audiens. Sebaliknya bila dongeng kurang lancar dan respon audiens terasa kurang tertarik, bisa menimbulkan kesan kurang positif.
Apa saja ya yang kita lakukan setelah mendongeng? Mari kita simak..
             Bersyukur. Ini penting, karena apapun hasilnya, kita sudah menjadi seorang mengajarkan kebaikan pada anak-anak. Bila ada yang kurang, jadikan hal ini sebagai bahan evaluasi agar di masa depan kita bisa memperbaikinya.
             Tetap bersemangat, karena mendongeng akan selalu diperlukan. Kontinyuitas dalam mendengar dongeng lebih efektif menumbuhkan karakter anak. Sulit untuk mengubah karakter hanya dalam 1 atau 2 kali mendengar dongeng, kecuali memang sebelumnya anak-anak sudah diberi contoh teladan yang baik.
             Tularkan pengalaman dongeng, baik sharing, bagi ilmu, pelatihan dan lain-lain. Adanya sebuah komunitas dimana Anda berperan aktif akan membantu menjaga semangat dan idealisme kita dalam mendongeng.
             Terus mengeksplorasi cerita-cerita teladan baru bahkan kalau bisa mengembangkan sendiri cerita-cerita yang sesuai. Meskipun fiktif, bila nilai yang disampaikan baik, akan tetap efektif hasilnya.
             Membentuk tim dongeng. Adanya tim akan mengurangi banyak beban sekaligus menambah besar peluang untuk mendongeng setiap ada kesempatan.
             Menawarkan diri untuk mendongeng di lingkungan-lingkungan baru. Misalnya di luar sekolah kita. Hal ini akan membuat kita semakin dikenal dan dihargai sebagai pendongeng yang baik.
             Tetap fokus pada isu pendidikan, bukan pada materinya. Bila menjadi pendongeng hanya berdasarkan materi (bukannya nggak boleh sih, hanya dibatasi), maka ketulusan kita akan berubah. Saya percaya hal itu akan mengubah pula tujuan kita mendongeng, dari yang murni untuk mendidik menjadi mencari materi. Takutnya tanpa disadari audiens akan menangkap hal ini dan akhirnya dongeng kita tidak lagi fun dan ceria.


MENDONGENG DENGAN S A E (SERU, ASYIK, EFEKTIF)
Jadi dimana nih nilai S A E (Seru, Asyik, Efektif) nya?
Yang dimaksud dengan seru adalah ketika dongeng kita berlangsung penuh semangat dan dalam suasana ceria. Bagaimana caranya?
Agar suasana serunya kita dapat, faktor persiapannya harus matang. Termasuk faktor mental. Semakin kita siap, semakin kita bersemangat dalam mendongeng. Semakin kita bersemangat, semakin ceria pula para audiens kita, maka semakin seru pula dongeng yang kita lakukan.
Suasana asyik didapat bila pendongeng dan pendengar sama-sama menikmati dongeng. Keasyikan ini didapat bila saat mendongeng kita benar-benar memperhatikan apa yang sudah disampaikan di atas, semisal menguasai panggung, vokal yang jelas, dan lain-lainnya itu. semakin asyik, semakin mudah pula anak-anak menyerap inti dongeng kita.
Terakhir adalah efektif. Dongeng yang tak efektif akan terkesan terlalu panjang, bertele-tele, tidak mudah didapat pesannya. Agar terasa efektif, maka faktor latihan sebelum mendongeng lah yang paling menentukan. Semakin banyak berlatih, semakin efektif pula saat kita mendongeng.
Intinya  adalah melaksanakan semua yang telah disampaikan dalam bentuk praktek. Langkah awal sangat menentukan. Hanya dengan melakukan prakteklah ilmu, hikmah dan tujuan akan didapat.
Selamat mendongeng!!!

Share:

Jumat, 29 Mei 2020

MERUBAH PARADIGMA MENCAPAI KESUKSESAN

Pengertian dan Jenis-Jenis Pola Pikir
Pola pikir adalah pola-pola dominan yang menjadi acuan utama seseorang dalam bertingkah laku. Pola pikir merupakan pola yang menetap dalam pikiran bawah sadar seseorang, keyakinan merupakan bagian dari pola pikir. Terbentuknya pola pikir dipengaruhi oleh pengalaman yang direkam sejak masa kecil (imprint). Rekaman bawah sadar ini berasal dari lingkungan dimana seseorang itu berada,  ada lingkungan yang bersifat positif dan ada juga yang negatif. Contoh pola pikir adalah adanya keyakinan di masyarakat, bahwa semakin banyak anak maka semakin banyak rezeki yang datang. Hal ini menjadi keyakinan masyarakat sehingga mempengaruhi  perilaku masyarakatnya.
Pola pikir seseorang digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pola pikir tetap (fixed mindset) dan pola pikir berkembang (growth mindset). Keduanya digunakan untuk melihat dunia dan hidup sukses yang diawali dan memahami diri sendiri, orang-orang di sekitar dan lingkungan.

1.      Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset)

Dalam pola pikir tetap, Anda diajak menyadari bahwa Anda merasa adalah Anda yang sekarang, menganggap kecerdasan dan bakat Anda tidak dapat berubah, serta meyakini adanya takdir Anda hanya menjauhi tantangan dan kegagalan. Kualitas hidup Anda sudah ditetapkan melalui mindset tetap menuju arah pemahaman dan penegasan atas intelegensia (kecerdasan), kepribadian dan karakter. Pola pikir ini tidak dapat ditingkatkan. Pola pikir tetap ini bersifat negatif, pesimis, tidak percaya diri, puas dengan keadaan yang sekarang, dan sebagainya.
2.      Pola Pikir Berkembang (Growth Mindset)
      Dalam pola pikir berkembang, Anda diajak memandang diri secara dinamis (tidak tetap) sebagai sebuah karya yang terus-menerus berkembang dan meyakini takdir Anda adalah hidup dalam perkembangan dan pemanfaatan peluang. Pola pikir berkembang dapat dijadikan pedoman untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan kapan saja. Kualitas dasar pribadi dapat dikelola melalui upaya-upaya tertentu agar menjadi lebih sukses. Pola pikir ini dapat dikembangkan melalui praktik, pelatihan, dengan cara atau metode yang tepat. Pola pikir berkembang bersifat positif dan optimis, selalu ingin berusaha, berjuang terus, percaya bahwa bisa maju dan sebagainya.

Dengan kata lain, peredaan antara pola pikir tetap dengan pola pikir berkembang adalah sebagai berikut :
POLA PIKIR

Tetap / Negatif
Berkembang /Positif
Merasa orang yang gagal
Negative thinking
Bermalas-malasan
Kurang percaya diri
Rendahan
Egois
Tertutup
Merasa diri sebagai orang bodoh
Hidup itu menyedihkan
Mudah menyerah
Berfikir demikian;
Lantai itu kotor sulit dibersihkan karena ada bercak cat yang sulit dipersihkan
Rumput itu tumbuh dengan cepat, percuma saja saya potong toh nanti akan tumbuh lagi
Semangat kerja keras
Percaya diri
Pengabdian
Kreatif yang positif
Loyalitas dan dapat dipercaya
Jujur
Tekun
Berani menerima tantangan
Tidak takut salah
Berani mencoba
Berfikir demikian (berusaha tanpa henti);
Lantai kotor pasti bisa dibersihkan
Rumput akan saya potong secara rutin

            Kaitannya dengan kedua pola pikir tersebut, maka muncul dua makna kemampuan manusia, yaitu kemampuan tetap (fixed ability) dan kemampuan yang bisa diubah (changeable ability) yang dapat diubah melalui proses pembelajaran.
            Mindset merupakan bagian penting dari kepribadian yang dapat diubah. Dengan memahami kedua mindset tersebut, Anda mulai diajak berpikir dan bereaksi dengan cara-cara baru menggapai kesuksesan dan kebahagiaan baru yang luar biasa. Meskipun seseorang memiliki mindset tetap, namun tidak selamanya mereka akan berpola pikir tetap. Mindset mereka bisa berubah menjadi pola pikir berkembang.


Pikiran dan Otak Manusia
Pada awalnya otak dianggap sebagai suatu alat yang tidak penting, kurang mendapat perhatian karena hanya segumpal benda cair (lembek) dan kecil. Dalam perkembangan, otak dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa hebatnya. Otak sebagai alat perekam yang paling cermat diyakini merupakan faktor penggerak perilaku manusia. Otak memiliki dua sisi bagian yang masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri, yaitu otak kanan dan otak kiri.

Tabel Fungsi Otak
Otak Kiri
Otak Kanan
Cara berpikir sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme
Cara berpikir sesuai cara untuk mengetahui yang ersifat non-verbal, seperti perasaan / emosi, kesadaran yang bberkenaan dengan perasaan, kesadaran spasial, pengenalan entuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi
Kontrol gerak motorik tuuh sebelah kanan
Control gerak motorik tuuh sebelah kiri
Rasional, logis, Linier, Konvergen, Formal
Relasional, intuitif / seni, kreatifitas, Divergent, informal
Urut, rinci
Acak, holistic

            Kemampuan dalam penguasaan otak akan mengantarkan Anda kepada pemahaman individu dengan baik dan kemampuan cara mengelola manajemen berpikir yang efektif. Ada kekuatan dalam pikiran. Bermanfaat bila positif dan merusak bila negative.
            Mengenal bagaimana pola pikir seseorang dengan mengenali kecenderungan perilakunya sekaligus mengetahui apakah dia meningkatkan kemampuan kerja otaknya atau sebaliknya.


Proses Pembentukan Pola Pikir

Menurut Adi Wiragunawan (2007), proses pembentukan pola pikir depengaruhi oleh adanya lima faktor, yaitu:
1.      Repetisi, sesuatu yang terus-menerus akan menembus filter mental yang ada di pikiran sadar masuk ke pikiran bawah sadar. Contoh; adanya keberadaan iklan televise mempengaruhi pola pikir remaja.
2.      Identifikasi kelompok atau keluarga, hal-hal yang dipercaya kelompok atau keluarga biasanya masuk dalam diri dan diadopsi sebagai mindset.
3.      Ide dari figure yang memiliki otoritas, apa yang disampaikan idola atau tokoh terkemuka akan diterima sebagai kebenaran menembus pikiran bawah sadar.
4.      Emosi yang intens, pengalaman dari emosi yang sangat intens akan sangat mudah menjadi mindset yang kuat.
5.      Kunci alfa, adalah kondisi seperti masa kanak-kanak, apa yang masuk dalam bawah sadar akan langsung diterima sebagai kebenaran.


Teknik Peruahan Pola Pikir
Berikut ini merupakan cara-cara pengembangan pola pikir seseorang yaitu;
1.      Menentukan tujuan pengemangan diri secara jelas. Setiap orang hendaknya memiliki tujuan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan pengembangan diri haruslah dibuat secara jelas dan dapat diukur. Misalnya, seorang pelajar memiliki tujuan pengemangan diri menjadi siswa teladan dengan selalu disiplin dan mendapat peringkat tiga esar di sekolah,dan sebbagainya.
2.      Mengenali potensi pola pikir anda. Apakah pola pikir selama ini cenderung yang tetap atau pola pikir berkembang. Lakukan analisis dan jadikan pola pikir yang dimiliki adalah pola pikir berkembang.
3.      Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang menghambat pengembangan diri. Anda harus menjadi individu yang memiliki komitmen yang kuat, sehingga meskipun Anda mendapatkan hambatan dari factor internal maupun eksternal, Anda bisa mengatasinya.
4.      Mencoba menghapus rekaman bawah sadar yaitu peristiwa yang membuat Anda mengalami trauma dsn sakit hati. Masa lalu biarlah berlalu. Yang penting Anda harus bangun dari masa lalu yang suram dan mennyakitkan, karena bagaimana pun juga Anda tidak bisa mengubah masa lalu.
5.      Berani mengambil resiko. Resiko adalah konsekuensi yang harus diambil bila Anda ingin beruah. Jangan terlalu berorientasi pada resiko yangakan dihadapikarena hanya akan menghambat Anda untuk memulai langkah menuju sukses.
6.      Mencari feedback terus menerus. Orang lain lebih pintar dalam memberikan penilaian kepada diri Anda. Terima dan ubah bila kritikan itu baik.
7.      Keberanian untuk memulai sangat diperlukan. Bila Anda sudah masuk dalam suatu peristiwa, maka Anda akan mengetahui hambatan dan resiko yang sebenarnya terjadi.
8.      Belajar dari pengalaman. Jangan biarkan pengalaman berlalu begitu saja. Anda harus mempelajarinya dan mempergunakannya di masa sekarang dan masa yang mendatang.
9.      Lakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus. Jangan pernah berhenti pada sati titik kesuksesan karena masih ada kesuksesan lain yang harus dicapai.



Faktor-Faktor Internal yang Mempengarugi Pola Pikir
1)      Blok persepsi. Setiap peristiwa yang terjadi, seseorang akan memberikan arti tersendiri. Kurang teliti akan informassi karena asumsi yang tidak akurat berakibat mudah terjebak dalam suatu masalah. Pada akhirnya seseorang kesulitan untuk melihat masalah tersebut secara sederhana dan objektif. Tidak dapat melihat masalah dari berbagai sisi dan prasangka yang menghambat. Hal ini dipengaruhi latar belakang, pengalaman, dan sebagainya.
2)      Blok ego, yaitu selalu nganggap diri paling sempurna dan selalu mrnyalahkan orang lain. Orang ini tidak dapat menghadapi kekurangan diri dengan cara merendahkan orang lain. Selain itu, individu ini mengabaikan bertanggung jawab, berorientasi pada apa yang saya peroleh dan semuanya tampak suram saat hal yang diinginkan tidak tercapai.
3)      Blok intelektual, melakukan sesuatu karena kebiasaan, bukankarena tepat dan berguna. Berpedoman bahwa “benar atau salah, tetap harus begini!”. Terjebak dalam logika sendiri, terlalu bergantung pada ‘analisis rasional’ sehingga mengabaikan intuisi dan imajinasi.
4)      Blok emosi, misalnya takut membuat kesalahan, tidak bisa membedakan anatara realita dengan fantasi, sedih, khawatir berlebihan, tidak menyadari bahwa seseorang selalu mempunyai piilihan dalam menentukan reaksi atas suatu peristiwa, serta emosi yang tidak terkendali dan kurangnya kebesaran hati, empati, dan penghargaan kepada diri sendiri.



Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pola Pikir

(1)   Faktor lingkungan, selalu menyalahkan lingkungan (keadaan), memandang diri sendiri sebagai korban.
(2)   Faktor teman sejawat, kesulitan dan menerima perbedaan dan kurang percaya pada kerja sama
(3)   Faktor iklim kerja, bergantung kepada orang lain untuk memecahkan masallahnya.
(4)   Faktor pimpinan yang auditokrasi, tidak menghargai pendapat anak buah, tidak memberikan kesempatan kepada orang lain, dan kurang memberikan penghargaan.
(5)   Faktor perkembangan IPTEK sebagai media dalam mempengaruhi masa.
(6)  Faktor globalisasi, proses yang memungkinkan kejadian di suatu belahan dunia berakiat penting bagi individu dan komunitas di bagian dunia lain.



Analisis Faktor Internal dan Eksternal Pola Pikir
Untuk melakukan perubahan pola pikir dan paradigma serta mengatasi tantangan diperlukan membangun keterampilan pembelajaran. Mempelajari perubahan pola pikir, jika ingin perubahan kecil, maka garaplah perilaku Anda dan apabila ingin perubahan besar, maka garaplah mindset Anda. Cara yang ideal adalah dengan mempelajari faktor internal dan eksternal melalui pembelajaran sepanjang hayat. Tahapan yang harus dilalui adalah menjadikan diri pribadi sebagai individu pembelajar, menjadikan keluarga yang mmau  belajar dan menjadikan organisasi yang mau belajar (organisasi pembelajar).
Share:

Kamis, 28 Mei 2020

ABOUT BULLYING


Berikut adalah rangkuman dari Kulwap “About Bullying” bersama SATGAS PPA Sardonoharjo, Atikah Nurul Khasanah, S.Psi (IG: @atikah.n.h) yang diikuti pada Sabtu, 23 Mei 2020

Fenomena Bullying Saat Ini
Baru-baru ini ada sebuah video beredar tentang sebuah kasus bullying yang dialami seorang anak yang berjualan jalangkote di Sulawesi Selatan. Itu menandakan bahwa di Indonesia rawan sekali dengan yang namanya bullying.
Fenomena bullying bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan dilakukan oleh siapa saja. Menurut catatan KPAI di Indonesia sendiri dalam kurun waktu 9 tahun, sejak 2011 hingga 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat.

Arti Sesungguhnya Bullying
Bullying dikenal juga sebagai peer victimization atau relation aggression. Di beberapa negara bullying disebut ijime (Jepang), faints de violence (Perancis), Prepotenza (Italia). Sedangkan di Indonesia bullying diartikan sebai perundungan.
Bullying atau perundungan adalah tindakan apabila seseorang/sekelompok orang merasa lebih kuat/lebih berkuasa dengan sengaja menyakiti/menakut-nakuti orang yang lebih lemah. Tindakan ini dipersepsikan oleh korban akan berulang lagi dan cenderung sering. Kata bullying digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa “berkuasa” terhadap seseorang ataupun sekelompok orang yang merasa tidak berdaya melawan perlakuan ini.

Penyebab Terjadinya Bullying
Bullying terjadi karena datang dari 2 faktor, dari sisi korban dan sisi pelaku. Mari kita bahas satu persatu.
KORBAN
1.Penampilan Fisik
Penampilan fisik biasanya meliputi kelebihan dan kekurangan, berat badan, menggunakan kacamata, menggunakan behel, menggunakan pakaian yang dianggap tidak keren seperti orang-orang lainnya.
2.RAS
Ini biasanya terjadi ketika seseorang masuk pada lingkungan dan dianggap minoritas. Beberapa survey penelitian juga menunjukkan bahwa bullying akibat RAS yang berbeda memang cukup sering terjadi.
3.Terlihat Lemah
Biasa terjadi bila seseorang terlihat lemah dan tidak suka melawan. Bullying melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan juga korban. Pelaku tentunya merasa sebagai pihak yang lebih kuat dan mendominasi korban yang lemah.
4.Tidak Mudah Bergaul
Selain karena lemah, tidak mudah bergaul dan memiliki sedikit teman menjadi salah satu penyebab bullying.
PELAKU
1.Memiliki Masalah Pribadi
2.Pernah Menjadi Korban Bullying
3.Iri Pada Korban
4.Kurangnya Pemahaman
5.Mencari Perhatian
6.Kesulitan Mengendalikan Emosi
7.Berasal dari Keluarga Disfungsional
8.Merasa Bullying Sangat Menguntungkan
9.Kurangnya Empati

Bentuk-Bentuk Bullying
Ada 2 bentuk bullying
1.Direct Bullying (Perundungan Langsung), antara lain verbal bullying, physical bullying, gesture bullying.
2.Indirect Bullying (Perundungan Tidak Langsung), antara lain extortion dan e-bullying/cyber bullying.

Dampak Bullying
Ada beberapa efek samping yang terjadi akibat bullying.
1.Ketakutan, stres, depresi, maupun rasa cemas berlebihan.
2.Timbul pemikiran untuk bununh diri atau melukai diri sendiri.
3.Mengalami masalah di sekolah.
4.Memiliki masalah suasana hati, tidur, nafsu makan, dan juga tingkat energi.

Bila sudah merasa tidak nyaman, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi bullying.
1.Ceritakan pada orang dewasa yang dapat dipercaya. Ceritakan pada orang tua atau guru yang memiliki otoritas untuk menindaklanjuti.
2.Abaikan penindasan dan jauhi. Penindas akan merasa senang apabila mendapatkan reaksi seperti yang diinginkan, maka menjauh adalah salah satu langkah yang dapat digunakan.
3.Tingkatkan keberanian dan rasa percaya diri. Tunjukkan pada lingkungan sekitar bahwa diri kita bukan orang yang lemah dan mudah ditindas.
4.Bicara baik-baik dengan pelaku. Tunjukkan bahwa apa yang dilakukan pelaku bukan hal yang baik dan bahkan berbahaya.
5.Bantu teman yang menjadi korban. Jika menyaksikan perilaku bully, jangan diam saja dan cobalah untuk memberi dukungan pada korban.
6.Rekam dan laporkan kepada lembaga yang concern menangani ini, psikolog maupun pihak berwajib.

Pemerintah di Indonesia sudah banyak melakukan upaya untuk mengurangi bullying di era sekarang. Ada beberapa lembaga yang jika terdapat kasus bullying bisa langsung bisa dilaporkan, di tingkat desa ada PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak), di tingkat kecamatan dan kota ada P2TP2A, Puspaga, KPAI, dan lembaga-lembaga swasta lainnya.


Bedanya Perkelahian dan Bullying
Jika Perkelahian
⚫ Punya kekuatan yang sama
⚫ Terjadi sesekali
⚫ Kebetulan
⚫ ecek-ecek
⚫ Reaksi emosional setara
⚫ Tidak mencari kekuatan dan perhatian
⚫ Tidak berusaha mendapatkan sesuatu
⚫ Penyesalan / penyesalan kemudian bertanggung jawab
⚫ Upaya memecahkan masalah.

Jika Bullying
⚪ Ketidakseimbangan kekuatan
⚪ Tindakan negatif / berulang yang diulang
⚪ Serius dengan ancaman bahaya fisik atau emosional. Upaya untuk menyakiti melalui penghinaan & pengucilan yang mempengaruhi status sosial & hubungan para korban
⚪ Reaksi emosional yang kuat dari korban; sedikit atau tidak ada reaksi dari pelaku intimidasi
⚪ Mencari kekuatan & kontrol
⚪ Berusaha mendapatkan kekuatan, hal-hal atau materi atau mendapatkan popularitas
⚪ Tidak ada penyesalan - menyalahkan korban. Mungkin atau tidak menunjukkan penyesalan. Pendekatan manipulatif, mungkin mereka mencoba membuat kepercayaan korban apa yang mereka rasakan tidak nyata.
⚪ Tidak ada upaya untuk memecahkan masalah, dapat menyangkal ada masalah. Biasanya lebih cenderung menantang korban dengan menanyakan contoh spesifik perilaku mereka. Korban tidak dapat mengartikulasikan karena dinamika sosial yang kompleks.

Share:

Senin, 13 April 2020

BAHAGIA

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda. Sebab target dan pencapaian dalam hidup seseorang berbeda. Jalan yang ditempuh juga berbeda. Cobaan yang dihadapi juga berbeda. Tidak bisa disamakan.

Jika hari ini kamu melihat temanmu sudah mengenakan toga, tapi kamu masih sibuk mengejar dosen dan revisi, mungkin itu sudah waktunya dia dan ini memang masih waktumu untuk menikmati perjuangan. Jika hari ini temanmu sudah bekerja, tapi kamu masih mencari pekerjaan, itu juga sudah waktunya bagi dia dan waktumu masih untuk berjuang. Jika hari ini temanmu sudah menikah bahkan memiliki anak, tapi kamu masih sibuk memperbaiki diri, itu juga sudah waktu baginya untuk menjalani hidup seperti itu dan kamu dengan kehidupanmu seperti ini. Tidak bisa disamakan.

Hanya saja memang, apa yang orang lain miliki menjadi tampak indah dalam pandangan kita. Sehingga kita berpikir, "Enak ya hidup seperti dia?". Padahal kita tidak tahu cobaan apa saja yang sudah dia lewati, perjuangan apa saja yang sudah dia lakukan.

Ekspektasi hanya menjadi angan ketika tidak sejalan dengan doa dan iktiar. Satu hal yang harus kita sadari, semua punya waktunya sendiri-sendiri dan sudah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa. Tugas kita ialah untuk mensyukurinya. Mensyukuri setiap detak dalam detik yang membuat kita masih bernafas, masih bisa berjuang, dan masih bisa tersenyum untuk menikmati hidup.
Share:

Sabtu, 18 Januari 2020

MANAJEMEN PENDAKIAN

Pada setiap pendakian dibutuhkan perencanaan yang disebut manajemen pendakian. Tujuan dari manajemen pendakian agar pada saat Anda mendaki sebuah gunung tidak menemui kendala yang sangat berarti yang akan mengakibatkan kerugian pada diri sendiri, adapun manajemen perjalan yang perlu Anda ketahui sebagai berikut:

1. Pra–Pendakian
Yang paling penting dalam memulai setiap perjalanan adalah motivasi yang mendorong terjadinya suatu perjalanan. Selanjutnya hal inilah yang akan menjadi tolak ukur selanjutnya. Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai perjalanan adalah sebagai berikut.

  • Mengumpulkan informasi dari aktivitas yang akan dilakukan. Informasi tersebut antara lain; 1) menentukan tujuan kegiatan dan jenis medan; 2) menetukan lokasi dan lamanya waktu perjalanan; 3) data tentang daerah tersebut, bisa didapat dari yang sudah pernah ke tempat tersebut sebelumnya atau dari peta daerah tersebut; 4) akses menuju lokasi.
  • Mempersiapkan diri sendiri dan tim yang akan melakukan perjalanan, yang meliputi 1) latihan Fisik, untuk meningkatkan ketahanan dan kekutan tubuh dalam menghadapi kondisi dan cuaca alam yang liar; 2) sadari kemampuan fisik dalam perjalanan; 3) menentukan dan mengumpulkan logistik yang mencakup perlengkapan peralatan pribadi, tim dan khusus, serta perbekalan makanan untuk seluruh personil dan cadangannya; 4) pada perjalanan yang berat, dalam 1(satu) hari setiap orang membutuhkan asupan makanan 5000 Kal dan 2liter air; 5) Team mate, hanya dengan komunikasi yang baik dan mengenal lebih dalam tentang teman-teman seperjalanan kita dapat mengetahui hal-hal khusus dari personil tim (misalnya penyakit khusus, kebiasaan yang menyimpang, dll dari rekan).
  • Penjadwalan kegiatan, yang mencakup 1) membuat Time Schedule, yang dimaksud disini adalah penjadwalan kegiatan terhitung sejak dimulainya perencanaan, persiapan hingga pengakhiran perjalanan; 2) membuat Rencana Operasional Perjalanan (ROP), termasuk menetukan titik start, camp dan titik finish.
  • Evaluasi dari persiapan yang telah dilakukan.


2. Teknis Perjalanan
Yang paling penting saat pendakian adalah melakukan AKLIMASI, yaitu menyesuaikan tubuh dengan kondisi di ketinggian yang memiliki cuaca, tekanan udara dan suhu yang berbeda dari biasanya.

  • Pengaturan perjalanan, misalnya pembagian tim yang dibagi dalam kelompok kecil berikut logistiknya dan tim perjalanan agar sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya (ROP)
  • Teknik berjalan saat pendakian, 1) saat mendaki: jalan seperti biasa dan jangan mengangkat kaki terlalu tinggi dari lintasan dengan irama tetap (konstan). Untuk mempermudah aklimatisasi, dapat dilakukan dengan cara menyamakan irama langkah dan nafas kita; 2) saat istirahat: jika hanya sementara jangan duduk santai, ketika istirahat besar, usahakan agar posisi kaki lebih tinggi dari kepala agar darah dapat mengalir kembali ke otak. 3) saat turun: jangan gunakan tumit sebagai tumpuan.
  • Evaluasi pergerakan sehari-hari, misalnya tentang kesesuaian perjalanan dengan ROP, kondisi tim, perbekalan.
  • Kondisi darurat yang bisa swaktu-waktu terjadi, misal menurunnya kemampuan fisik, ketika perlengkapan peralatan dan perbekalan makanan tidak mencukupi, ketika kehilangan orientsasi medan

3. Pasca Perjalanan
Setelah pendakian dapat mengevaluasi perjalanan yang telah dilakuka, meliputi

  • Periksa kondisi peralatan yang telah digunakan
  • Bersihkan peralatan yang kotor
  • Membuat laporan perjalanan yang telah dilakukan dengan tujuan agar memiliki data valid tentang perjalanan yang dilakukan tersebut. Kumpulkan data yang didapat selama perjalanan, antara lain jadwal hasil kegiatan, kronologis kegiatan, hasil evaluasi selama di lapangan, peralatan yang digunakan, laporan keuangan, hasil yang didapat dari perjalanan yang dilakukan, dokumentasi foto/video.


Perlengkapan, Peralatan, dan Perbekalan Makanan
Berguna agar kita tidak sengsara dan kelaparan selama perjalanan atau pendakian yang kita lakukan.
Jika kita melakukan perjalanan 3hari, maka bawalah bekal untuk 5 hari gunanya
yaitu untuk menghadapi kondisi darurat. Setelah menentukan perjalanan yang akan dilakukan,
barulah kita dapat menetukan perlengkapan dan perbekalan regu dan perorangan yang dapat
dibagi menjadi

#.PerlengkapanPerorangan:
Carrier/Ransel/day-pack (sebelum barang dimasukkan, biasakan bungkus barang-barang
dengan kantong plastik untuk menghindari hujan)
Matras
Raincoat/ponco
Sleeping Bag dan perlengkapan tidur
Perlengkapan makan & minun
Baju hangat/jaket + baju ganti (cadangan)
Sepatu gunung + kaos kaki cadangan
Senter (Baterai + bohlam cadangan)
Kupluk + topi rimba, sarung tangan, peluit
Obat-obatan pribadi
peralalatan navigasi (Kompas,dll), webbing, tali, dll
Logistik
Lilin dan lampu senter
Pisau serba-guna/Victorinox
perlengkapan mandi

#.PerlengkapanTeam:
Tenda
Peralatan masak
P3K
TrashBag
GolokTebas

Dalam merencanakan perjalanan, perencanaan perbekalan perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan perbekalan, yaitu :
- Lamanya perjalanan
- Aktifitas yang akan dilakukan
- Kondisi medan dan cuaca yang akan dihadapi

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka ada beberapa persyaratan khusus yang harus diperhatikan dalam menentukan perbeklan.

  • Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi yang memadai dan tidak asing di lidah.
  • Terlindung dari kerusakan, tahan lama dan mudah/sederhana dalam mengolahnya.
  • Sebaiknya makanan yang siap pakai atau tidak perlu memasaknya terlalu lama, irit bahan bakar dan air.
  • Ringan dan mudah dibawa

Untuk merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat di atas, kita dapat mengkajinya dengan langkah sebagai berikut:

  • Informasi tentang kondisi medan, perkiraan cuaca, aktifitas yang dilakukan dan lamanya waktu perjalanan.
  • Perhitungan jumlah kalori yang dibutuhkan
  • Susun daftar makanan yang memenuhi syarat di atas, kemudian buatlah daftar menu makanan dan hitunglah total kalorinya setelah siap dimakan.
  • Persiapkan vitamin dan mineral untuk suplemen tambahan, secukupnya.
  • Setelah mengkaji hal–hal di atas, kita dapat membandingkan mana yang banyak mengandung hidrat arang, lemak, maupun protein.

Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dan perbekalan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan disusun terlebih dahulu sebuah daftar (check-list), perlengkapan dan perbekalan individu maupun kelompok lalu kita teliti lagi mana yang perlu dibawa atau tidak.


Menyusun Perlengkapan dalam Ransel (Packing)
Yang menjadi dasar dari pacing adalah keseimbangan. Bagaimana kita menumpukan berat badan pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja seefisien mungkin. Dalam batas-batas tertentu frame yang dimiliki ransel dapat memberikan kenyamanan sewaktu menggendong beban. Namun bagaimanapun baiknya desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila kita tidak mampu menyusun barang dengan baik. Berikut ini adalah prinsip pengepakan barang ke ransel (packing):

  1. Kelompokkan barang–barang dan masukkan ke dalam kantong plastic atau kantong parasit, terutama pakaian tidur/cadangan, kertas/buku, dll.
  2. Tempatkan barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan kita. Barang–barang yang lebih ringan di tempatkan di bagian bawah.
  3. Letakkan barang yang sewaktu–waktu diperlukan cepat, di bagian atas atau pada kantung luar (ponco, air minum, P3K, survivalkit, dsb). Semua hal ini ditujukan agar beban lebih dekat ke pundak dan tidak perlu membongkar ransel dalam kondisi yang memerlukan reaksi cepat.
Share:

Senin, 13 Januari 2020

MATERI MOUNTENERING

Anda pasti sudah kenal dengan mountenering atau biasa disebut dengan mendaki gunung. Mendaki gunung merupakan aktivitas yang keras, penuh petualangan dan kegiatan ini membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan dan daya juang yang tinggi. Bahaya dan
tantangan seakan hendak mengungguli merupakan daya tarik dari kegiatan ini.

Pada hakekatnya bahaya dan tantang antersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan anda dalam suatu pendakian yang sukar berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenanganan terhadap perjuangan melawan diri sendiri. Pada dasarnya pendaki harus memiliki motivasi yang jelas, terarah, dan tidak merugikan diri sendiri.

Di Indonesia kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di
Pegunungan Jayawijaya. Pendaki Indonesia tersebut adalah Soedarto, Soegirin dan Fred Atabe dari Jepang.

Pada tahun yang sama (1964) mulailah berdiri perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung, dimulai berdirinya Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (MAPALAUI) di Jakarta kemudian diikuti oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya diberbagai kota di Indonnesia.


Persiapan Bagi Seorang Pendaki Gunung
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan, antara lain:

1. Mental
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam mengahdapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani. Berani di sini, yaitu sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

2. Pengetahuan dan Keterampilan
Meliputi pengetahuan serta keterampilan tentang tali temali, navigasi darat, cuaca dan teknik-teknik pendakian, pengetahuan tentang alat pendakian, pertolongan pada keadaan darurat, bertahan hidup di alam bebas dan sebagainya.

3. Kondisi fisik yang memadai
Ini dapat dimengerti karena mendaki gunung termasuk olahraga yang berat. Berhasil dan tidaknya suatu pendakian salah satunya bergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap selama perjalanan haruslah selalu berlatih.

4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku harus kita pegang teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri bukanlah sikap yang terpuji sebagaimana juga bila kita tidak menghargai sikap dan pendapat masyarakat disekitar kita pada kegiata nmendaki gunung yang kita lakukan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam setiap pendakian :
Jumlah anggota dalam setiap pendakian minimalnya 3orang, kecuali kalau pendukung yang telah diatur sebelumnya cukup memadai.
Jagalah agar anggota kelompok tetap bersama.
Janganlah mendaki di luar/melebihi batas kemampuan diri sendiri dan tim.
Bawalah setiap saat makanan, pakaian, peralatan dan perlengkapan secukupnya.
Tinggalkanlah daftar Rencana Operasional Perjalanan dan daftar barang bawaan kita pada
orang yang berkepentngan (keluarga, organisasi, dsb).
Ikutilah aturan/saran dari para pendaki gunung yang sebelumnya telah mendaki gunung tersebut, melalui buku-buku atau sumber informasi lainnya.
Berusahalah untuk bertindak/berlaku bijak sebagai Pencinta Alam yang benar-benar menjaga
kelestarian alam & lingkungan dalam setiap kesempatan mendaki gunung.

Jenis Perjalanan/Pendakian
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan yang meliputi mulai dari hill
walking sampai pada ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan
memakan waktu yang lama, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Menurut kegiatan dan jenis
medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi menjadi:

1. Hill Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relative landai dan yang tidak atau belum membutuhkan
peralatan-peralatan. Untuk pengaman jalur lintasan biasanya tali dipasang.

2. Scrambling
Pendakian pada permukaan yang tidak terlalu terjal, namun tangan digunakan untuk keseimbangan. Namun bagi pemula, sebaiknya dipasang tali untuk pengaman jalur lintasan dan mempermudah perjalanan.

3. Climbing
Kegiatan pendakian ini membutuhkan teknik pemanjatan dan penguasaan peralatan teknis.
Climbing terbagi atas 2 bagian, yakni :
- Rock Climbing adalah pendakian yang dilakukan pada pemanjatan tebing batu yang cukup terjal.
- Snow & Ice Climbing ialah pendakian pada dinding yang permukaannya tertutup salju dan es. Pada climbing ini peralatan khusus sangat dibutuhkan seperti ice axe, crampon, ice screw, dsb.

4. Mountaineering
Merupakan gabungan perjalanan dari semua bentuk pendakian di atas. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping penguasaan teknik dan peralatan mendaki, yang perlu dikuasai pula yaitu manajemen perjalanan dan perbekalan.


Sistem Pendakian
Berikut beberapa sitem pendakian yang kita kenal.

1. Himalayan System
Adalah system pendakian yang dipergunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. System ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam system ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (basecamp, flycamp). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, pendakian ini dapat dikatakan berhasil.

2. Alpine System
Adalah system pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen pada khususnya dengan tujuan agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. System ini lebih cepat karena pendaki tidak perlu kembali ke basecamp, disebabkan perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan terus maju membuka flying camp.
Share:
Blue Fire Pointer

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.